Pembongkaran Tiang Monorel Mangkrak di Rasuna Said Sedot Anggaran Ratusan Juta
JAKARTA - Tiang monorel mangkrak di sepanjang Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan akhirnya dibongkar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pembongkaran dilaksanakan mulai hari ini, Rabu (14/1/2026).
1. Bongkar Tiang Monorel
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyebut anggaran untuk membongkar tiang-tiang monorel tersebut menyedot biaya ratusan juta.
"Jadi yang pertama anggaran untuk membongkar aja Rp254 juta," ujar Pramono kepada wartawan, Selasa (13/1/2026).
Pramono menjelaskan, anggaran Rp100 miliar dialokasikan untuk penataan kawasan secara menyeluruh selama satu tahun penuh. Seperti penataan jalan, pengelolaan taman di sepanjang Jalan HR Rasuna Said.
"Yang Rp100 miliar itu adalah anggaran untuk mengatur pedestrian, jalan, taman selama satu tahun penuh. Sehingga dengan demikian itu untuk kebutuhan pengaturan, penataan jalan Rasuna Said sampai dengan satu tahun penuh," ucapnya.
Jelang Timnas Putri Indonesia vs Vietnam di SEA Games 2025: Akira Higashiyama Ingin Cetak Sejarah
Pembongkaran ini dikerjakan Pemprov DKI Jakarta lantaran PT Adhi Karya selaku penanggung jawab proyek tak kunjung membongkar monorel. Padahal Pemprov telah menyurati Adhi Karya untuk melakukan pembongkaran.
"Udah kita surati dari dulu-dulu dan udah, pokoknya besok kita bongkar lah," pungkas Pramono.
Sekedar informasi, pembangunan monorel di Ibu Kota dicanangkan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso pada 2002 untuk mengembangkan moda angkutan massal selain bus Transjakarta dan subway.
Monorel di Jakarta terbagi dalam dua jalur. Rute jalur hijau (green line) yakni Semanggi-Casablanca- Kuningan-Semanggi dan jalur biru (blue line) meliputi Kampung Melayu-Casablanca-Tanah Abang-Roxy.
Pada 2004 konstruksi mulai dikerjakan dengan membuat tiang-tiang pancang. Namun, pembangunan proyek ini tersendat. Harapan sempat muncul saat seremonial pemasangan batu pertama di Tugu 66, Kuningan, Jakarta Selatan pada Oktober 2013.
Namun, setelah batu pertama dipancangkan belum berlanjut ke batu kedua. Alih-alih terlihat ada struktur konstruksinya, area konstruksi sama sekali tidak ada kegiatan.
Gubernur Jakarta saat itu Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) lebih memilih mengembangkan LRT daripada monorel. Dari segi teknis dan pengembangan, LRT lebih mudah dibanding monorel.
Terlebih pihaknya sudah memastikan PT JM gagal melanjutkan proyek senilai Rp12 triliun itu lantaran mereka tidak bisa menunjukkan bukti uang 30 atau Rp4 triliun. Mereka juga dinilai menyalahi pembangunan depo di Waduk Setiabudi dan Tanah Abang yang merusak tata ruang.










