Tak Hanya Melarang Medsos, Inggris Perketat Penggunaan AI bagi Anak dan Remaja
LONDON, iNews.id - Pemerintah Inggris tidak hanya melarang anak-anak di bawah usia 16 tahun mengakses media sosial, tetapi juga memperketat penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) bagi anak dan remaja.
Kebijakan tersebut diumumkan bersamaan dengan rencana pembatasan akses ke platform media sosial seperti TikTok, Instagram, Facebook, Snapchat, YouTube, dan X yang akan mulai berlaku pada musim semi 2027.
Dalam aturan baru itu, pemerintah Inggris menyoroti potensi risiko yang muncul dari perkembangan chatbot AI, terutama layanan yang memungkinkan simulasi hubungan romantis, seksual, atau aktivitas role play yang dinilai tidak sesuai untuk anak-anak.
Karena itu, pengembang chatbot AI yang menyediakan fitur simulasi hubungan seksual atau percakapan bernuansa dewasa diwajibkan menerapkan batas usia minimum 18 tahun bagi para penggunanya.
Tak hanya layanan yang secara khusus menawarkan simulasi hubungan intim, pemerintah Inggris juga akan membatasi akses pengguna di bawah usia 18 tahun terhadap fitur percakapan yang membahas topik intim maupun konten serupa pada chatbot AI secara umum.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat perlindungan anak di ruang digital yang kini tidak hanya mencakup media sosial, tetapi juga teknologi AI yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan pemerintah tidak bisa lagi bergantung sepenuhnya pada perusahaan teknologi untuk menjaga keselamatan anak-anak di internet.
"Ini adalah garis batas. Para raksasa teknologi telah mendapat kesempatan mereka dan gagal, tetapi kami turun tangan untuk melindungi anak-anak, mendukung orang tua, dan menetapkan norma baru bagi generasi mendatang," ujar Starmer, dikutip AP News, Selasa (16/6/2026).
Selain membatasi media sosial dan chatbot AI, pemerintah Inggris juga mengumumkan larangan siaran langsung (live streaming) bagi seluruh pengguna berusia di bawah 16 tahun di berbagai platform digital.
Kebijakan tersebut ditujukan untuk mengurangi risiko komunikasi langsung antara anak-anak dan orang asing, termasuk yang terjadi melalui platform permainan daring.
Menteri Teknologi Inggris Liz Kendall mengatakan langkah tegas ini diambil karena perusahaan teknologi dinilai belum mampu memberikan perlindungan yang memadai bagi anak-anak dan remaja.
"Perusahaan teknologi memiliki banyak sekali kesempatan untuk menjaga keselamatan anak-anak, namun mereka gagal bertindak. Itulah mengapa kami mengambil alih kekuasaan dari raksasa teknologi dan mengembalikannya ke tangan orang tua," kata Kendall.
Pemerintah Inggris juga tengah menyiapkan penelitian lebih lanjut mengenai dampak penggunaan media sosial pada malam hari serta fenomena infinite scrolling atau kebiasaan menggulir layar tanpa henti yang dinilai berpotensi memicu kecanduan digital.
Dengan rangkaian kebijakan tersebut, Inggris menjadi salah satu negara yang mengambil langkah paling agresif dalam mengatur penggunaan teknologi digital oleh anak dan remaja, baik pada media sosial maupun layanan berbasis kecerdasan buatan.








