Inovasi AI Bantu Prediksi Risiko Karhutla di Kalbar hingga 24 Bulan

Inovasi AI Bantu Prediksi Risiko Karhutla di Kalbar hingga 24 Bulan

Berita Utama | sindonews | Kamis, 27 Agustus 2026 - 18:35
share

Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Kalimantan Barat mendapat dukungan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini mampu memetakan potensi risiko kebakaran hingga 24 bulan ke depan.

Teknologi tersebut diberikan secara gratis sebagai dukungan terhadap upaya pencegahan dan mitigasi Karhutla di Kalimantan Barat. Sistem AI ini menggunakan predictive analytics dengan mengolah berbagai data untuk memetakan tingkat risiko kebakaran pada wilayah tertentu.

Baca juga: Pakar: Faktor Manusia Dominan, Pencegahan Karhutla Harus Menyentuh Perubahan Perilaku

Pengunaan teknologi AI ini dihibahkan oleh pengembang teknologi asal Kalimantan Barat, Hajon Mahdy melalui Hotama Technologies. Teknologi tersebut tidak dirancang untuk memastikan kapan kebakaran terjadi, melainkan memberikan indikasi probabilitas dan tingkat risiko yang dapat menjadi pendukung pengambilan keputusan serta terus diperbarui berdasarkan data terbaru.

"Selama ini teknologi banyak digunakan ketika titik api sudah muncul. Kami ingin mendorong pendekatan yang lebih preventif agar mitigasi bisa dilakukan lebih awal," ujar Hajon, dikutip Kamis (27/8/2026).

Inovasi ini diperkenalkan dalam forum diskusi strategis penanganan Karhutla yang melibatkan sejumlah instansi di Kalimantan Barat. Forum membahas pemetaan wilayah rawan, kondisi gambut, serta penguatan sistem informasi untuk mitigasi Karhutla.

Baca juga: BNPB Temukan Ribuan Titik Hotspot Karhutla, 52 Armada Udara Dikerahkan

Salah satu fitur unggulan yang dikembangkan ialah Peat Fire Vulnerability Index (PFVI), yakni indeks untuk memetakan tingkat kerentanan kebakaran di kawasan gambut. Melalui fitur ini, wilayah gambut yang berisiko tinggi dapat diidentifikasi lebih dini sebelum munculnya hotspot.

Menurut Hajon, teknologi tersebut diharapkan membantu pemerintah dan petugas lapangan menentukan prioritas patroli, pembasahan gambut, pengelolaan sumber air, hingga penempatan sumber daya secara lebih efektif.

Ia menegaskan pihaknya tidak menawarkan sistem tersebut sebagai proyek komersial kepada Pemprov Kalimantan Barat. Teknologi AI itu dihibahkan sepenuhnya, dengan harapan seluruh pemangku kepentingan dapat berkolaborasi dalam integrasi data agar sistem semakin akurat.

"Kami tidak meminta pemerintah membeli sistem ini. Yang kami harapkan adalah kolaborasi data agar AI dapat bekerja semakin baik untuk membantu masyarakat," ujarnya.