Pengecualian Sanksi AS, India Banjir Minyak Rusia Melonjak 90

Pengecualian Sanksi AS, India Banjir Minyak Rusia Melonjak 90

Ekonomi | sindonews | Sabtu, 4 April 2026 - 08:18
share

Kebijakan Pemerintah Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Trump yang mencabut sementara sanksi minyak terhadap Rusia memicu lonjakan impor minyak mentah oleh India hingga 90 pada Maret 2026. Langkah yang diambil Washington untuk meredam harga energi global akibat ketegangan di Timur Tengah tersebut justru dinilai menguntungkan Moskow dengan tambahan pendapatan miliaran dolar.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas pasokan global. "Keputusan ini akan memungkinkan minyak terus mengalir ke pasar internasional dan kami akan memanfaatkan barel Iran untuk menekan harga," ujar Bessent.

Baca Juga:Tak Ada Pilihan Lain, Negara-negara Asia Berebut Minyak dari Rusia

Lonjakan impor India terjadi setelah Kantor Pengawasan Aset Asing Departemen Keuangan AS (OFAC) menerbitkan lisensi 30 hari pada 5 Maret lalu. Izin tersebut memungkinkan penyulingan di India membeli minyak mentah Rusia yang telah dimuat di kapal, yang kemudian diperluas melalui Lisensi Umum 134 bagi pembeli global lainnya.

Kebijakan ini justru memberi kekuatan baru bagi Rusia di pasar energi. Berdasarkan data Bloomberg, penyulingan India menyepakati pembelian 60 juta barel minyak Rusia untuk pengiriman April dengan premi sebesar 5 USD hingga 15 USD per barel di atas harga Brent.Kondisi tersebut merupakan pembalikan tajam dari situasi sebelumnya, di mana Moskow terpaksa memberikan diskon besar akibat sanksi penuh. Times of India melaporkan bahwa volume impor secara keseluruhan pada Maret meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan posisi pada Februari.

Financial Times memperkirakan Kremlin mampu meraup keuntungan pendapatan antara USD3,3 miliar hingga USD4,9 miliar pada akhir Maret. Sementara itu, peneliti dari Carnegie Russia Eurasia Center memprediksi keuntungan Moskow bisa menyentuh angka USD9 miliar per bulan seiring tingginya harga minyak jenis Urals.

Di sisi lain, upaya AS untuk menurunkan harga minyak dunia belum membuahkan hasil yang signifikan. Harga minyak Brent sempat melonjak mendekati USD120 per barel pada awal Maret dan tetap bertahan di atas level USD100 meskipun kebijakan pengecualian sanksi telah diberlakukan.

Baca Juga:Sudah Saatnya Iran Mendeklarasikan Kemenangan, Ini 3 AlasannyaSituasi ini memicu kritik keras dari dalam negeri AS, termasuk keberatan dari 25 senator Demokrat yang melayangkan surat resmi kepada pemerintah. Mereka menyatakan kekhawatiran karena kebijakan tersebut dianggap gagal memberikan pasokan tambahan yang berarti bagi pasar global.

Lembaga kajian Foundation for Defense of Democracies turut mencatat bahwa sebagian besar minyak Rusia telah dialokasikan menuju India dan China. Oleh karena itu, pengecualian luas yang diberikan Washington dinilai tidak akan berdampak besar pada penambahan pasokan di pasar lain.

Masa berlaku pengecualian khusus untuk India dijadwalkan berakhir pada 4 April, sementara lisensi perdagangan minyak Rusia yang lebih luas akan kedaluwarsa pada 11 April mendatang.

Topik Menarik