Negosiasi AS-Iran Buntu, Harga Minyak Dunia Kembali Memanas Tembus USD106 per Barel
Harga minyak dunia melonjak menembus level USD106 per barel pada perdagangan Jumat (24/4), seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kenaikan ini turut menyeret mayoritas pasar saham Asia ke zona merah di tengah kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi global.
Lonjakan harga minyak dipicu mandeknya negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memperpanjang ketidakpastian di kawasan, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital energi dunia. Kondisi ini memicu aksi hati-hati pelaku pasar di berbagai bursa regional.
Baca Juga:Blokade Selat Hormuz, Pendapatan Minyak Arab Saudi Anjlok Rp1,6 Triliun per Hari
Dikutip dari Business Standard, kontrak berjangka minyak Brent tercatat naik lebih dari 1 persen dan sempat menembus USD107 per barel pada perdagangan sebelumnya. Kenaikan berlanjut setelah blokade terhadap pelabuhan Iran oleh militer AS masih berlangsung, menyusul kegagalan pembicaraan damai yang difasilitasi Pakistan.
Pemerintah Iran menyatakan belum memiliki rencana untuk melanjutkan perundingan, sementara pihak AS menilai kebuntuan terjadi akibat ketidaksepakatan terkait jaminan program nuklir Teheran. Situasi ini memperkecil peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat.Tekanan dari lonjakan harga energi dan ketidakpastian geopolitik tersebut tercermin di pasar saham Asia. Indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,8, Shanghai Composite melemah 0,5, Kospi Korea Selatan turun 0,4, dan S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,6.
Baca Juga:Dampak Perang AS vs Iran Mulai Terasa, Harga Sejumlah Barang Naik Drastis
Di sisi lain, Bursa Jepang menjadi pengecualian dengan indeks Nikkei 225 menguat 0,6, didorong sektor teknologi. Sementara itu, indeks Taiex Taiwan melonjak 2,5 seiring penguatan saham produsen semikonduktor.
Sebelumnya, pasar saham AS juga ditutup melemah dengan indeks S&P 500 turun 0,4 dan Nasdaq terkoreksi 0,9. Dengan harga minyak yang masih jauh di atas level pra-konflik sekitar USD70 per barel, pelaku pasar menilai ketidakpastian akan tetap tinggi dalam jangka pendek.









