7 PTMA Buka Prodi Dokter Spesialis, Ini Daftar Kampusnya

7 PTMA Buka Prodi Dokter Spesialis, Ini Daftar Kampusnya

Gaya Hidup | sindonews | Sabtu, 14 Februari 2026 - 08:15
share

Sebanyak 7 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) resmi mengantongi izin pembukaan 24 program studi pendidikan pendidikan dokter spesialis. Ini merupakan salah satu capaian program akselerasi Program Pendidikan Dokter Spesialis yang diamanahkan Presiden Prabowo Subianto.

Pembukaan prodi PPDS perdana di PTMA ini berhasil dicapai 7 PTMA, yaitu:

1. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dengan 12 program

2. Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) tiga program

3. Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) empat program.

4. Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) 1 program

5. Univeristas Muhammadiyah Surakarta (UMS) 1 program6. Universitas Muhammadiyah Surabaya satu program

7. Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) membuka dua program spesialis.

Mendiktisaintek Brian Yuliarto dalam peluncuran tersebut menekankan pentingnya menjaga orientasi utama pendidikan PPDS sebagai ladang pengabdian untuk menghasilkan dokter yang berkualitas dan memberikan manfaat yang luas kepada masyarakat, bukan sebagai ruang komersialisasi.

“Kualitas harus dipertahankan dan ditingkatkan, jangan menjadikan pendidikan PPDS ini komersialisasi”, tegas Menteri Brian.

Menyoroti fenomena banyaknya warga negara Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri. Dengan total belanja kesehatan mencapai Rp160 triliun yang mengalir ke luar negeri setiap tahunnya, Mendiktisaintek berharap Rumah Sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah (RSMA) dapat mengembangkan pusat unggulan (center of excellence) secara bertahap dan terfokus, sehingga mampu menjadi rujukan pasien dalam dan luar negeri. Hal ini dapat diwujudkan melalui ekosistem kesehatan Muhammadiyah yang menyinergikan PTMA dan RSMA sesuai strategi Sistem Kesehatan Akademik.

“Kita perlu menunjukkan bahwa kampus dan rumah sakit kita memiliki kualitas layanan berkelas internasional. Bukan orang Indonesia yang berobat ke luar negeri, tetapi pasien luar negeri yang datang ke rumah sakit kita”, ujar Menteri Brian.

Selain aspek pendidikan, Brian juga menyoroti peran strategis institusi pendidikan kesehatan dalam menjaga stabilitas nasional. Beliau berharap kualitas layanan kesehatan di dalam negeri dapat terus meningkat sehingga ketergantungan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan di luar negeri dapat ditekan.

Langkah ini sejalan dengan visi pemerintah untuk melakukan transformasi kesehatan yang mandiri. Dengan memperkuat kualitas SDM kesehatan dari hulu (pendidikan) sekaligus memperkokoh sistem ketahanan kesehatan nasional dalam jangka panjang.

Dalam kesempatan yang sama, Brian juga mengapresiasi kiprah dr. Corona Rintawan sebagai salah satu penggagas Emergency Medical Team Indonesia yang berhasil menjadi Tim Medis Darurat Muhamadiyah yang terverifikasi WHO pertama di Indonesia pada 19 Oktober 2025.

Sosok-sosok dengan semangat pengabdian seperti itu, menurutnya, menjadi inspirasi bagi pengembangan pendidikan kedokteran di PTMA. “Kita butuh orang-orang yang memiliki keinginan kuat untuk memajukan dunia kedokteran dan mengabdi kepada bangsa dan negara,” ujarnya.

Peluncuran 24 PPDS ini diharapkan menjadi langkah awal bagi PTMA dan RSMA untuk melahirkan dokter-dokter spesialis yang tidak hanya unggul secara kompetensi, tetapi juga memiliki integritas, empati, dan semangat ibadah dalam profesinya.

Topik Menarik