Layanan Konsultasi Psikologis Kemenkes Catatkan Lonjakan, 220.000 Kontak dalam Setahun
IDXChannel—Sejak peluncurannya, layanan konsultasi psikologis Kementerian Kesehatan, Healing119.id, mencatatkan lonjakan pengakses secara signifikan. Platform tersebut telah menerima lebih dari 220.000 kontak.
Ratusan ribu kontak pada wadah tanggap krisis mental ini berasal dari sambungan telepon dan WhatsApp. Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mengatakan jumlah ini merupakan akumulasi kontak dalam kurun setahun.
“Saat ini sudah ada kunjungan yang menghubungi, baik chat maupun telepon, itu lebih dari 220.000 call ataupun WhatsApp selama lebih dari setahun,” kata Imran dalam acara Temu Media Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia di Kantor Kemenkes, Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Pada masa-masa awal pengoperasiannya, layanan Healing119.id rata-rata hanya menerima sekitar 350–400 kontak per hari. Namun, angka tersebut melonjak tajam dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir sejak Februari 2026 dengan jumlah pengakses 500 sampai 600 per hari.
Menyikapi lonjakan tersebut, Imran mengaku memiliki perasaan dilematis. Di satu sisi, ia mengapresiasi masyarakat yang semakin aktif memanfaatkan pelayanan kesehatan jiwa pemerintah. Namun, di sisi lain, peningkatan volume kontak ini menjadi tantangan besar dari segi ketersediaan tenaga pendamping.
“Positifnya layanannya digunakan, gitu kan? Tapi sedihnya, kok tambah banyak nih yang menghubungi. Jadi ya senang campur sedih, tapi semoga enggak naik terus karena kalau naik terus kita susah tuh untuk nyari konselornya,” tutur Imran.
Tingginya angka konsultasi tersebut berdampak langsung pada antrean layanan. Psikolog klinis dari Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia, Annelia Sari Sani, membeberkan bahwa dengan keterbatasan sumber daya manusia (SDM), timnya baru sanggup merespons sebagian kecil dari total permohonan yang masuk.
Sekitar 19 Pengakses Teridentifikasi Ingin Mengakhiri Hidup
“Dari hampir 200.000 pengakses, sayangnya saat ini kami baru bisa melayani atau menanggapi sekitar 15.979 penelepon dan pengakses melalui WhatsApp. Dari 15.979 itu saja, ada 3.036 atau sekitar 19 persen pengakses yang teridentifikasi memiliki pikiran mengakhiri hidup,” ujar Annelia.
Ia mengungkapkan bahwa dalam satu shift hanya ada sekitar lima psikolog dengan batasan waktu konsultasi selama 30 menit. Hal itu tak sebanding dengan jumlah pengakses yang mencapai 500–600 orang per hari.
“Akses untuk Healing 119 itu satu pasien kita batasi 30 menit. Kenapa? Karena antreannya panjang sekali. Dalam satu shift psikolognya mungkin paling cuman lima orang, satu shift itu tiga jam, yang mengakses satu shift itu bisa 500-600 orang,” ungkap dia.
Untuk menyiasati padatnya antrean, tim Healing119.id menerapkan sistem triase guna memilah tingkat kegawatdaruratan pengakses. Pengakses yang tidak mengalami krisis psikologis mendesak akan diarahkan ke fasilitas kesehatan setempat sesuai wilayah domisili mereka.
Di samping kendala kapasitas, Annelia mengungkapkan temuan lain yang cukup mengejutkan terkait profil rentang usia pengakses layanan krisis mental ini. “Yang cukup, entah ini prihatin atau juga bahwa orang sudah mulai mencari pertolongan, yang mengakses Healing119 itu mulai dari umur 8-10. Terutama memang masalahnya kesepian,” papar dia.
Ia menambahkan, porsi pengakses akibat rasa kesepian paling banyak didominasi oleh kelompok usia remaja awal. “Peak-nya kalau kesepian itu, seingat saya sih umur sekitar 12-14 tahun, jadi remaja awal. Kami juga terus terang kaget ketika datanya kemudian sudah terkumpul, oh pengaksesnya semuda ini toh ternyata,” lanjut Annelia.
Kendati demikian, Annelia menekankan agar publik dan awak media tidak terburu-buru menyimpulkan lonjakan angka pengakses sebagai tanda murni meningkatnya angka niat bunuh diri di masyarakat. “Kenaikan volume orang yang mengakses crisis helpline tidak boleh otomatis kita terjemahkan sebagai peningkatan keinginan bunuh diri,” tegas Annelia.
Menurutnya, lonjakan ini justru menjadi sinyal positif terhadap tumbuhnya kesadaran masyarakat akan kesehatan mental serta menurunnya stigma dalam mencari bantuan profesional.
“Hal ini bisa mencerminkan kombinasi bahwa memang ada kebutuhan untuk dibantu saat krisis, peningkatan awareness, peningkatan akses yang selama ini tidak ada menjadi ada dan bisa diakses dengan mudah. Dan dengan sistem bantuannya yang anonim, kemungkinan besar ini stigmanya sudah menurun,” pungkas dia.
(Nadya Kurnia)










