AS Sita Dua Kapal Tanker Minyak Venezuela, Rusia dan China Bereaksi Keras
WASHINGTON – Amerika Serikat menyatakan telah menyita dua kapal tanker yang diduga terkait ekspor minyak Venezuela, dalam operasi berturut-turut di Atlantik Utara dan Laut Karibia. Operasi ini merupakan bagian dari upaya Washington memperketat blokade minyak terhadap Venezuela.
Berdasarkan lansiran dari BBC, Kamis (8/1/2026). Militer AS menaiki kapal tanker berbendera Rusia Marinera setelah pengejaran hampir dua pekan saat kapal tersebut berlayar di perairan antara Islandia dan Skotlandia. Operasi ini mendapat dukungan logistik dari Angkatan Laut Kerajaan Inggris melalui aset udara dan laut.
Kapal tanker kedua, M/T Sophia, dicegat di wilayah Karibia. Pemerintah AS menuding kapal tersebut melakukan “aktivitas ilegal” dan merupakan bagian dari armada bayangan (shadow fleet) yang digunakan untuk menghindari sanksi internasional.
Langkah penyitaan ini terjadi di tengah eskalasi tekanan AS terhadap Venezuela, hanya beberapa hari setelah pasukan khusus AS menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dalam operasi kilat di Caracas.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth menegaskan bahwa blokade minyak terhadap Venezuela tetap berlaku secara global.
“Blokade minyak Venezuela yang dikenai sanksi dan ilegal tetap berlaku penuh, di mana pun di dunia,” tulis Hegseth di platform X.
Rusia Protes, Kirim Kapal Selam
Pemerintah Rusia mengecam keras penyitaan kapal tanker yang berlayar di bawah benderanya. Moskow menuntut AS memperlakukan awak kapal Rusia secara layak dan segera memulangkan mereka.
Kementerian Perhubungan Rusia menyatakan, kapal Marinera memiliki izin sementara menggunakan bendera Rusia, serta menegaskan tidak ada negara yang berhak menggunakan kekerasan terhadap kapal yang terdaftar secara sah di yurisdiksi negara lain.
Laporan menyebut Rusia sempat mengerahkan kapal selam untuk mengamankan kapal tersebut. Namun, pasukan AS berhasil menaiki kapal tanpa perlawanan.
Gedung Putih menyebut Marinera—yang juga dikenal dengan nama lama Bella 1—sebagai kapal armada bayangan Venezuela yang “tidak memiliki kewarganegaraan” karena mengibarkan bendera palsu dan menjadi subjek perintah pengadilan federal AS.
Venezuela Disebut Kooperatif
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pemerintah Venezuela bekerja sama dengan AS terkait penyitaan kapal tanker kedua di Karibia.
“Mereka memahami bahwa satu-satunya cara untuk memindahkan minyak, memperoleh pendapatan, dan menghindari keruntuhan ekonomi adalah dengan bekerja sama dengan Amerika Serikat,” kata Rubio.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan Venezuela akan menyerahkan hingga 50 juta barel minyak, senilai sekitar US$2,8 miliar, kepada AS.
Rubio menambahkan bahwa minyak tersebut akan dijual di pasar global dan hasilnya akan dikelola AS dengan klaim “menguntungkan rakyat Venezuela”.
Kongres AS Mulai Resah
Di tengah meningkatnya ketegangan, sejumlah anggota Kongres AS mempertanyakan sejauh mana keterlibatan militer AS di Venezuela.
Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schumer meminta kejelasan terkait jumlah pasukan dan biaya yang akan dikeluarkan. Senat AS dijadwalkan melakukan pemungutan suara pekan depan terkait resolusi kekuasaan perang bipartisan untuk membatasi kewenangan presiden dalam operasi militer tanpa persetujuan Kongres.
China Mengecam
China, yang selama ini menjadi salah satu pembeli utama minyak Venezuela, mengecam langkah AS dan menuding Washington mengancam stabilitas keamanan energi global.
Sementara itu, Komando Eropa AS dan Komando Selatan AS menyatakan penyitaan kedua kapal dilakukan berdasarkan pelanggaran sanksi AS dan hukum maritim internasional, termasuk ketentuan bahwa kapal tanpa kewarganegaraan dapat dinaiki oleh otoritas.
Militer AS juga merilis video operasi yang menunjukkan helikopter berputar di atas kapal tanker sebelum dilakukan penggeledahan.



