Angka PHK Melonjak, Kemnaker Minta Perusahaan Utamakan Dialog

Angka PHK Melonjak, Kemnaker Minta Perusahaan Utamakan Dialog

Terkini | idxchannel | Rabu, 21 Januari 2026 - 15:44
share

IDXChannel - Jumlah tenaga kerja yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia sepanjang 2025 tercatat mencapai 88.519 orang. Menyikapi kondisi tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) meminta perusahaan untuk mengedepankan dialog sebelum mengambil keputusan PHK.

Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Kemnaker, Indah Anggoro Putri, mengatakan dialog antara manajemen dan pekerja menjadi langkah utama ketika perusahaan menghadapi tekanan bisnis.

"Jika bisnis sedang susah, diutamakan dialog lalu ada kesepakatan-kesepakatan baru yang mungkin bisa dibicarakan antara manajemen dan pengusaha," katanya saat dijumpai di Kompleks Parlemen, Rabu (21/1/2026).

Ia menambahkan, setiap kesepakatan yang dihasilkan dari dialog tersebut perlu dilaporkan kepada pemerintah, baik melalui Kemnaker maupun dinas ketenagakerjaan di daerah. Pemerintah, lanjutnya, siap memberikan pendampingan kepada perusahaan maupun pekerja.

"Dan silakan itu dilaporkan ke kami, pemerintah, maupun ke dinas-dinas tenaga kerja. Dan kami serta dinas siap mendampingi," lanjutnya.

Namun demikian, ia menekankan perusahaan tidak bisa serta-merta mengklaim mengalami kebangkrutan sebagai alasan PHK. Pemerintah, kata dia, akan meminta bukti yang jelas terkait kondisi keuangan dan bisnis perusahaan.

"Tapi ya disclaimer, jangan semua terus bilang bangkrut ya. Harus tetap dibuktikan dengan data-data keuangan dan bisnis," ucapnya.

Meningkatnya jumlah korban PHK sendiri disebut Indah tidak lepas dari tekanan kondisi global, khususnya ketegangan geopolitik yang memengaruhi kinerja dunia usaha. Dinamika geopolitik sepanjang 2025, terutama pada semester pertama, berdampak langsung terhadap aktivitas ekspor dan impor Indonesia.

"Ya pertama kan ada tekanan juga dari ekspor-impor ya. Itu pasti kondisi dunia di 2025 awal terutama sampai semester pertama kan masih ada dinamika cukup tinggi geopolitik. Ada perang dan sebagainya. Pasti itu berpengaruh ke ekspor," ungkapnya.

(Febrina Ratna Iskana)

Topik Menarik