Implementasi B50 Diproyeksi Ciptakan Surplus Solar
IDXChannel - Pemerintah mempercepat implementasi program mandatori biodiesel 50 persen (B50) sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional di tengah gejolak energi global.
Kebijakan ini diproyeksi mampu menciptakan surplus gasoil (solar) di dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa penerapan B50, yakni campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dengan 50 persen solar, akan berdampak signifikan terhadap keseimbangan pasokan energi nasional. Dengan meningkatnya porsi biodiesel, kebutuhan terhadap solar berbasis fosil dapat ditekan, sehingga berpotensi menciptakan kelebihan pasokan gasoil.
"Program ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam menjaga stabilitas pasokan di tengah ketidakpastian global," ujar Bahlil dalam konferensi pers, Selasa (31/3/2026).
Di tengah ketegangan geopolitik yang memicu fluktuasi harga minyak dunia, pemerintah memastikan ketersediaan energi nasional tetap dalam kondisi aman. Cadangan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) saat ini diklaim berada di atas standar minimum nasional.
Selain menjaga pasokan, kebijakan B50 juga menjadi bagian dari upaya mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan berbasis sumber daya domestik, khususnya minyak sawit. Langkah ini dinilai mampu memberikan nilai tambah bagi industri dalam negeri sekaligus memperkuat neraca perdagangan energi.
Bahlil menambahkan pihaknya terus melakukan kajian untuk menyesuaikan kebijakan energi dengan dinamika global, khususnya di sektor minyak dan gas bumi (migas). Di sisi lain, arah kebijakan energi nasional tetap menempatkan kepentingan masyarakat sebagai prioritas utama, sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto.
Untuk menjaga stabilitas di dalam negeri, pemerintah memutuskan tidak melakukan penyesuaian harga BBM subsidi guna mempertahankan daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi global.
Namun, Bahlil mengimbau masyarakat untuk menggunakan energi secara bijak.
"Pengendalian konsumsi dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan energi nasional," kata dia.
(NIA DEVIYANA)









