Geopolitik Makin Memanas, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.035 per USD

Geopolitik Makin Memanas, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.035 per USD

Ekonomi | idxchannel | Senin, 6 April 2026 - 16:10
share

IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada Senin (6/4/2026). Mata uang Garuda turun 55 poin atau 0,32 persen ke level Rp17.035 per USD.

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan faktor eksternal masih dominan membayangi pergerakan mata uang. 

Dari eksternal, investor fokus pada tenggat waktu yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump terhadap Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi konsekuensi berat.

“Presiden Trump pada hari Minggu memperingatkan bahwa Iran harus membuka kembali Selat Hormuz paling lambat hari Selasa, menunjukkan bahwa tenggat waktu pukul 8 malam Waktu Bagian Timur telah ditetapkan untuk lalu lintas kapal tanker agar dapat kembali beroperasi melalui jalur air strategis tersebut,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Senin (6/4/2026).

Sementara itu, juru bicara Presiden Iran Seyyed Mohammad Mehdi Tabatabaei mengatakan transit melalui selat tersebut hanya dapat dilanjutkan jika sebagian pendapatan dialokasikan untuk mengkompensasi Iran atas kerusakan terkait perang.

Ancaman tersebut menghidupkan kembali kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut di Teluk, di mana pengiriman barang tetap sangat terbatas selama beberapa minggu.

Meningkatnya kembali harga minyak mentah juga memperkuat kekhawatiran inflasi bagi pasar keuangan, dengan biaya energi yang lebih tinggi diperkirakan akan menekan sektor transportasi, manufaktur, dan konsumen secara global jika Selat tetap diblokir.

Sementara itu Ekonomi AS menambah 178.000 lapangan kerja pada Maret 2026, menurut laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) pada hari Jumat. Angka ini menyusul penurunan 133.000 (direvisi dari -92.000) dan berada di atas konsensus pasar yang memperkirakan kenaikan 60.000. 

Sementara itu, Tingkat Pengangguran sedikit menurun menjadi 4,3 persen pada Maret dari 4,4 persen pada Februari, lebih baik dari perkiraan.

Dari internal, Menteri Keuangan melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sampai Maret 2026 mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Angka defisit ini lebih besar dibanding realisasi pada periode yang sama tahun lalu, yakni hanya Rp99,8 triliun atau 0,41 persen terhadap PDB. Pemerintah menargetkan batas atas defisit APBN 2026 mencapai 2,68 persen terhadap PDB.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, defisit anggaran berasal dari belanja total Rp815 triliun atau tumbuh 31,4 persen (yoy) dari periode yang sama tahun lalu sekitar Rp620,3 triliun. Sementara itu, penerimaan negara hanya terealisasi Rp574,9 triliun, dengan mayoritas disumbang oleh pajak yakni Rp462,7 triliun atau tumbuh 14,3 persen dari Maret tahun lalu yakni Rp404,7 triliun. 


 
Sejalan dengan itu, pembiayaan anggaran negara sudah terealisasi Rp257,4 triliun atau tumbuh 1,9 persen (yoy). Dengan kondisi tersebut, keseimbangan primer mengalami defisit Rp95,8 triliun. Keseimbangan primer merupakan kondisi di mana total pendapatan negara dikurangi belanja negara, di luar pembayaran bunga utang.
 
Apabila total pendapatan negara lebih besar dibandingkan belanja negara di luar pembayaran bunga utang, maka keseimbangan primer akan positif. Namun, bila keseimbangan negatif maka total pendapatan negara lebih kecil bila dibanding belanja negara di luar pembayaran bunga utang. Keseimbangan primer surplus berarti utang lama tak perlu dibayar dengan penarikan utang baru.
 
Dengan berbagai sentimen di atas, untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun diproyeksi ditutup melemah pada rentang Rp17.030- Rp17.080 per USD.

(NIA DEVIYANA)

Topik Menarik