Inflasi April 2026 Terkendali, Purbaya Sebut Berkat Tak Naikkan Harga BBM Subsidi

Inflasi April 2026 Terkendali, Purbaya Sebut Berkat Tak Naikkan Harga BBM Subsidi

Terkini | idxchannel | Senin, 4 Mei 2026 - 16:54
share

IDXChannel – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan tanggapan positif terkait rilis data inflasi periode April 2026 yang dinilai menunjukkan tren perbaikan. Menurutnya, terkendalinya angka inflasi saat ini membuktikan bahwa kekhawatiran sejumlah pengamat ekonomi mengenai risiko inflasi yang tidak terkendali, tidak terbukti.

Purbaya menilai stabilitas harga saat ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang memilih untuk menyikapi fluktuasi harga minyak mentah dunia dengan hati-hati guna tetap bisa menjaga daya beli masyarakat.

"Eh, inflasi bagus ya hari ini. Itu kan seperti saya bilang sebelumnya, karena ada faktor subsidi," ujar Purbaya di kantornya, Senin (4/5/2026). 

Purbaya menekankan bahwa keputusan untuk tidak menaikkan harga BBM mengikuti harga pasar dunia merupakan langkah strategis yang didasarkan pada perhitungan matang, bukan sekadar bagi-bagi anggaran. 

Pemerintah berupaya mencegah terjadinya pelemahan ekonomi yang signifikan akibat tergerusnya daya beli jika harga energi dilepas ke mekanisme pasar.

"Tapi kalau kita lepas harga minyak, harga BBM sesuai dengan harga minyak dunia, pasti harga minyaknya, inflasinya naik tinggi, daya beli akan tergerus, ekonomi akan melambat secara signifikan. Itulah alasan kenapa kita menahan sebagian subsidi BBM. Jadi itu ada hitungannya, bukan saya sok jago banyak duit bagi-bagi, bukan," ujar dia.

Lebih lanjut, Purbaya menyebutkan bahwa pengalaman selama 25 tahun terakhir memberikan landasan kuat bagi pemerintah untuk menghitung dampak setiap kenaikan harga minyak dunia terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi nasional. 

Saat ini, solar untuk transportasi barang dipastikan tidak mengalami kenaikan harga guna menjaga stabilitas biaya logistik.

Badan Pusat Statistik (BPS) secara resmi melaporkan bahwa inflasi pada April 2026 tercatat sebesar 0,13 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Angka ini menunjukkan penurunan tekanan dibandingkan Maret 2026 yang sempat menyentuh 0,41 persen mtm.

Sektor transportasi memberikan andil terbesar sebesar 0,12 persen, terutama dipicu oleh kenaikan tarif angkutan udara dengan andil 0,11 persen.

Bensin memberikan andil inflasi 0,02 persen, sementara komoditas pangan seperti minyak goreng (0,05 persen), tomat (0,03 persen), dan beras (0,02 persen) turut memberikan kontribusi kecil.

(NIA DEVIYANA)

Topik Menarik