Menanti Dana Asing Kembali ke Indonesia, Simak Penghambat Utamanya
IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang telah bangkit lebih dari 12 persen dari level terendah tahun ini di 5.317 dan kembali ke area 6.000, tepatnya 6.268 pada Rabu (17/6/2026) pagi.
Namun, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih hampir Rp80 triliun sepanjang tahun berjalan.
Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai pemulihan pasar saham domestik sejauh ini masih lebih banyak ditopang investor dalam negeri, sementara investor global masih menahan diri karena risiko investasi Indonesia belum sepenuhnya mereda.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan tingginya risk premium Indonesia masih menjadi faktor utama yang membuat dana asing belum kembali masuk.
Investor global masih mencermati pelemahan rupiah, kekhawatiran fiskal, ketidakpastian kebijakan, serta isu tata kelola dan kredibilitas pasar modal.
"SpaceX, World Cup, dan demo mahasiswa bukan ancaman utama terhadap arus keluar asing Indonesia. Ketiganya lebih tepat dipandang sebagai alasan tambahan bagi investor untuk menunggu, sementara akar persoalannya tetap berada pada tingginya risk premium Indonesia," tulis Liza dalam risetnya, Jumat (12/6/2026) lalu.
Dari sisi global, rencana pencatatan saham SpaceX menjadi tantangan baru dalam perebutan likuiditas investor. Perusahaan milik Elon Musk tersebut disebut berhasil menghimpun dana sekitar USD75 miliar dengan valuasi mencapai USD1,77 triliun, menjadikannya salah satu penawaran saham perdana terbesar dalam sejarah.
Selain SpaceX, pasar juga menantikan rencana IPO perusahaan kecerdasan buatan (AI) seperti OpenAI dan Anthropic yang berpotensi memiliki valuasi mendekati USD1 triliun.
Kondisi tersebut membuat sebagian dana global berpeluang tetap bertahan di pasar Amerika Serikat dibanding mengalir ke pasar berkembang.
Kiwoom menilai fenomena ini juga menunjukkan bahwa narasi investasi berbasis teknologi masih menjadi daya tarik utama global. Sementara itu, pasar Indonesia masih didominasi sektor perbankan, komoditas, konsumsi domestik, dan hilirisasi.
Selain faktor global, ajang Piala Dunia 2026 juga dinilai berpotensi menjadi risiko terhadap likuiditas domestik.
Kiwoom memperkirakan taruhan legal global selama turnamen yang berlangsung di Amerika Utara tersebut dapat mencapai USD60 miliar, meningkat sekitar 71 persen dibanding Piala Dunia 2022.
Dengan transaksi judi online (judol) di Indonesia yang mencapai Rp286,8 triliun pada 2025, potensi dana yang mengalir ke aktivitas taruhan sepak bola diperkirakan berada di kisaran Rp30 triliun-Rp60 triliun. Nilai tersebut setara sekitar 40 persen-70 persen dari total aksi jual bersih asing di IHSG sepanjang tahun ini.
Di dalam negeri, demonstrasi mahasiswa juga menjadi perhatian pasar. Meski tidak berdampak langsung terhadap fundamental ekonomi, meningkatnya isu sosial-politik dapat memperpanjang sikap hati-hati investor asing yang masih menunggu kepastian.
Namun, Kiwoom melihat sejumlah faktor mulai membaik. Stabilitas rupiah mulai meningkat setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin menjadi 5,50 persen. Selain itu, tensi geopolitik global mulai mereda dan koordinasi pemerintah, regulator, serta pelaku pasar dinilai semakin kuat dalam menjaga stabilitas keuangan.
Dari sisi valuasi, pasar saham Indonesia juga mulai menawarkan daya tarik. Setelah sempat terkoreksi ke level terendah sejak pandemi, valuasi IHSG kini berada di kisaran 13-14 kali price to earnings (PE), atau berada pada area yang secara historis menarik.
Kiwoom menyebut Indonesia masih memiliki daya tarik struktural sebagai salah satu tujuan investasi jangka panjang di ASEAN alis ‘Fabulous Five’ bersama Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.
Dengan populasi hampir 300 juta jiwa, sumber daya alam strategis, serta pasar domestik terbesar di kawasan, Indonesia dinilai tetap memiliki peluang menarik bagi investor global.
Pasar kini menunggu sejumlah katalis penting, terutama hasil MSCI Market Accessibility Review pada 19 Juni 2026 dan FTSE Russell Rebalancing pada 22 Juni 2026. Jika hasil evaluasi tersebut memberikan sinyal positif terkait aksesibilitas pasar dan tata kelola, arus dana asing berpotensi kembali masuk.
"Foreign outflow memang masih berlanjut, namun secara historis hal tersebut tidak otomatis membatalkan peluang terbentuknya market bottom," ujar Kiwoom.
Menurut Kiwoom, pada sejumlah periode krisis sebelumnya, IHSG telah lebih dahulu mencatat kenaikan sekitar 15 persen hingga 56 persen sebelum investor asing kembali melakukan pembelian bersih.
Dengan demikian, absennya dana asing belum cukup menjadi alasan untuk mengabaikan peluang pemulihan pasar, meski perjalanan ke depan masih berpotensi berfluktuasi. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.









