Purbaya Optimistis Harga BBM Nonsubsidi Bakal Turun Jika Kesepakatan Damai AS-Iran Tercapai

Purbaya Optimistis Harga BBM Nonsubsidi Bakal Turun Jika Kesepakatan Damai AS-Iran Tercapai

Berita Utama | idxchannel | Senin, 22 Juni 2026 - 13:24
share

IDXChannel – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di dalam negeri, seperti Pertamax dan Pertamax Green 95, akan segera turun. Hal ini diyakini bakal terealisasi dalam waktu dekat jika tercapai kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang akan mendorong turunnya harga minyak mentah di pasar internasional.

Hal ini diutarakan Menkeu guna merespons kebijakan evaluasi tarif energi pada 9 Juni 2026 lalu yang sempat mengerek naik harga lini produk BBM nonsubsidi akibat gejolak eksternal.

"Saya yakin dengan potensi menurunnya harga minyak dunia, harga Pertamax dan lain-lain pun akan turun sehingga pondasi pertumbuhan ekonomi kita akan semakin kuat," kata Purbaya dalam rapat kerja bersama Komite IV DPD RI, Senin (22/6/2026).

Purbaya tidak menampik lonjakan harga minyak mentah global telah menjadi salah satu kerikil tajam yang menekan postur fiskal dan menjepit perekonomian nasional selama beberapa waktu terakhir. 

Oleh sebab itu, penyesuaian tarif pada sebagian instrumen BBM non-subsidi terpaksa dieksekusi demi membentengi anggaran negara dari pembengkakan subsidi.

"Jadi memang ketika ketidakpastian meningkat seperti kemarin, harga minyak dunia tinggi sekali, kita dalam ujian yang berat," kata Purbaya. 

Mencermati perkembangan konstelasi geopolitik yang kian kondusif serta tren penurunan harga minyak dunia saat ini, Purbaya memproyeksikan performa perekonomian nasional pada kuartal kedua 2026 bergerak ke arah yang jauh lebih sehat. Redanya tekanan luar negeri ini diharapkan mampu menstimulus laju pertumbuhan domestik secara lebih ekspansif.

"Kalau dilihat dari data yang sekarang, sepertinya kita sudah melewati masa ujian itu. Ke depan, tinggal memperbaiki pondasi yang sudah ada supaya dengan perbaikan yang ada, kita bisa tumbuh lebih optimal," ujar Purbaya.

Dia menambahkan bahwa berbagai kebijakan tidak populer yang diambil pemerintah beberapa waktu lalu semata-mata bertindak sebagai jangkar pengaman darurat agar roda ekonomi nasional tidak terseret arus krisis global.

"Jadi keadaan memang bukan ideal, tetapi kita terpaksa mengambil tindakan untuk memitigasi dampak global supaya kita masih bisa bertahan dan alhamdulillah sampai sekarang masih bisa tumbuh baik kan," kata Purbaya.

(NIA DEVIYANA)

Topik Menarik