Industri Asuransi Jiwa Catat Ekspansi, Premi Baru Tumbuh Dua Digit

Industri Asuransi Jiwa Catat Ekspansi, Premi Baru Tumbuh Dua Digit

Terkini | idxchannel | Selasa, 1 September 2026 - 09:14
share

IDXChannel - Lini usaha konvensional pada industri asuransi jiwa membukukan pertumbuhan premi bisnis baru yang pesat hingga mencapai dua digit pada semester I-2026. Capaian ini mengukuhkan dominasi unit bisnis konvensional sebagai motor penggerak utama industri dengan total perolehan premi menembus Rp85,18 triliun atau tumbuh 12,7 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).

Kinerja lini usaha konvensional mencatatkan akselerasi positif yang ditopang oleh lonjakan perolehan premi baru hingga kembali menyentuh angka dua digit. Capaian ini memutus tren pertumbuhan satu digit yang sempat membayangi industri asuransi jiwa dalam beberapa periode terakhir.

"Konvensional masih menjadi kontributor utama dengan premi sebesar Rp85,18 triliun atau tumbuh 12,7 persen. Kalau kita lihat premi baru, tumbuhnya dua digit dan ini perkembangan positif yang perlu kita jaga, bukan hanya tumbuh besarnya tapi juga kualitasnya," ujar Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Albertus Wiroyo, dalam konferensi pers di kantor AAJI, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Berdasarkan laporan keuangan unaudited dari 56 perusahaan asuransi jiwa, perolehan unit konvensional tersebut berbanding terbalik dengan unit usaha syariah yang mencatatkan premi sebesar Rp9,57 triliun atau terkontraksi 20,2 persen. 

Secara keseluruhan, total pendapatan premi industri asuransi jiwa (unweighted) tumbuh 8,2 persen menjadi Rp94,75 triliun, sementara secara weighted tercatat relatif stabil di level Rp58,06 triliun atau turun tipis 0,8 persen.

Laju ekspansi bisnis baru secara menyeluruh turut mencerminkan tingginya animo masyarakat dalam mencari instrumen proteksi yang selaras dengan rencana keuangan mereka. Peningkatan penetrasi pasar tersebut dibuktikan oleh pertumbuhan premi baru baik pada penghitungan weighted maupun unweighted.

"Premi bisnis baru secara weighted mencapai Rp21,06 triliun atau tumbuh 11,5 persen, sementara secara unweighted mencapai Rp57,75 triliun dengan pertumbuhan 20,5 persen. Pertumbuhan bisnis baru ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap perlindungan baru tetap tumbuh dan masyarakat masih mencari solusi asuransi yang sesuai dengan kondisi serta tujuan finansialnya," kata Albertus.

Dari sisi produk, pertumbuhan premi terjadi pada seluruh lini. Produk tradisional mencatatkan total premi Rp59,03 triliun (naik 6,9 persen), sedangkan produk unit link mengumpulkan premi Rp35,73 triliun (naik 10,3 persen). 

Pada pos premi bisnis baru, produk tradisional meningkat 14,2 persen menjadi Rp37,97 triliun, sementara premi bisnis baru unit link melonjak signifikan sebesar 34,5 persen menjadi Rp19,78 triliun setelah sempat melandai di beberapa kuartal sebelumnya.

Diversifikasi produk proteksi kian diminati oleh pemegang polis yang menginginkan kombinasi antara proteksi jiwa dan fleksibilitas investasi. Tren tersebut mendorong kebangkitan kembali premi bisnis baru produk berbasis investasi di tengah penguatan produk tradisional.

"Pertumbuhan juga terlihat pada premi bisnis baru produk tradisional yang tumbuh 14,2 persen menjadi Rp37,97 triliun, sementara unit link melesat 34,5 persen menjadi Rp19,78 triliun. Keberagaman pilihan produk ini perlu diimbangi dengan edukasi dan transparansi agar masyarakat dapat memilih sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial masing-masing," ujarnya.

Pergeseran preferensi nasabah turut tercermin dari metode pembayaran, di mana premi tunggal (single premium) melesat 26,3 persen menjadi Rp40,76 triliun karena menawarkan fleksibilitas penarikan dana. Sebaliknya, premi reguler terkoreksi tipis 2,4 persen menjadi Rp53,99 triliun, sejalan dengan penurunan premi lanjutan (renewal) sebesar 6,7 persen ke level Rp37,01 triliun yang menuntut penguatan retensi nasabah eksisting.

Berdasarkan kepemilikannya, segmen perorangan tetap mendominasi dengan kontribusi premi Rp75,12 triliun (naik 7,4 persen), sedangkan segmen kumpulan tumbuh lebih cepat sebesar 11,0 persen menjadi Rp19,63 triliun. 

Secara operasional, jumlah polis industri tercatat naik 7,7 persen menjadi 22,44 juta polis, jumlah tertanggung melonjak 24,8 persen menjadi 153,58 juta orang, dan realisasi klaim serta manfaat yang dibayarkan mencapai Rp75,57 triliun (naik 4,3 persen).

Kendati pos operasional proteksi menguat, total pendapatan industri sempat terkoreksi akibat tekanan pada instrumen investasi di pasar modal. Pelaku industri menegaskan pengelolaan aset asuransi jiwa selalu mengutamakan prinsip kehati-hatian guna menjamin hak pemegang polis hingga masa mendatang.

"Penurunan total pendapatan industri menjadi Rp96,39 triliun terjadi dalam konteks tekanan pada hasil investasi jangka pendek akibat volatilitas pasar keuangan. Namun, investasi asuransi jiwa berorientasi jangka panjang, sehingga kinerja industri perlu dibaca secara utuh melalui indikator perlindungan dan keberlanjutan premi nasabah yang sudah ada," kata dia.

Koreksi total pendapatan industri sebesar 11,2 persen dari posisi Rp108,51 triliun pada tahun lalu tersebut dipengaruhi oleh hasil investasi yang berbalik dari positif Rp16,19 triliun pada semester I-2025 menjadi minus Rp2,47 triliun pada semester I-2026. 

Penurunan nilai pada instrumen saham, obligasi, dan Surat Berharga Negara (SBN) dinilai bersifat siklikal sementara, sedangkan fundamental ketahanan solvabilitas industri tetap kokoh berkat penerapan diversifikasi dan pencocokan aset dengan kewajiban.

(Dhera Arizona)

Topik Menarik