Doa Bangsa untuk Sumatra, Menag Minta Masyarakat Hentikan Pola Pikir Eksploitatif terhadap Alam
JAKARTA, iNews.id - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengingatkan pentingnya menghentikan cara pandang dan pola pikir eksploitatif terhadap alam semesta. Dia menegaskan, bencana alam yang terjadi di berbagai wilayah, khususnya di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat harus menjadi momentum refleksi bersama agar manusia tidak melampaui batas terhadap lingkungan.
Pesan tersebut disampaikan Menag saat memberikan tausiah dalam acara Cahaya Hati Cahaya Indonesia bertema “Doa Bangsa untuk Sumatra” yang digelar iNews Media Group di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat yang disiarkan di iNews TV pada, Rabu (31/12/2025) malam.
Nasaruddin menekankan bahwa dalam ajaran Islam, alam semesta memiliki hak yang wajib dihormati oleh manusia. Menurutnya, manusia bukanlah penguasa mutlak yang bebas mengeksploitasi alam tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.
“Mari kita mengerem pikiran-pikiran yang eksploitatif, seolah-olah manusia adalah panglima alam semesta yang berhak mengeksploitasi alam semesta ini sesuai dengan keinginannya, tanpa memperhatikan hak-hak alam semesta,” katanya.
Nasaruddin menjelaskan bahwa Al-Qur’an telah memberikan peringatan tegas tentang akibat kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh perbuatan manusia sendiri.
“Dharaba al-fasadu fil-barri wal-bahri bima kasabat aydinnas. Tampak kerusakan di darat dan di laut itu karena tangan-tangan jahil manusia,” ucapnya.
Menag mengingatkan bahwa alam semesta bukan sekadar benda mati, melainkan memiliki kehidupan dan peran spiritual dalam tatanan ciptaan Tuhan. Oleh karena itu, eksploitasi yang melampaui batas dapat memicu berbagai bentuk bencana yang merugikan manusia sendiri.
Dalam tausiahnya, Nasaruddin juga mengajak masyarakat menjadikan musibah sebagai pelajaran kolektif agar hubungan manusia dan alam dibangun secara lebih adil dan seimbang.
“Mari kita jadikan musibah yang terjadi di Aceh, di Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, dan di tempat-tempat yang lain adalah sebagai sebuah pelajaran,” ujarnya.
Lebih lanjut, Menag menekankan bahwa upaya memperbaiki berbagai penderitaan akibat bencana tidak hanya dilakukan melalui langkah teknis dan bantuan material, tetapi juga melalui perubahan cara pandang terhadap alam.
“Cara memperbaiki segala macam penderitaan dan sekaligus tolak bala adalah mari kita menjadikan alam semesta sebagai partner kehidupan, jangan hanya menjadikannya sebagai objek di dalam menjalani kehidupan kita,” kata Nasaruddin.










