Iran Janjikan Perang Brutal, Bidik Kapal Induk AS

Iran Janjikan Perang Brutal, Bidik Kapal Induk AS

Global | inews | Jum'at, 30 Januari 2026 - 08:25
share

PARIS, iNews.id - Iran mengancam akan menyerang pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah serta kapal induk sebagai  pembalasan jika digempur terlebih dulu. Peringatan paling keras itu disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump memperbarui ancamannya terhadap Iran untuk menyepakati perjanjian nuklir atau menghadapi risiko serangan.

Di saat bersamaan, Uni Eropa memasukkan pasukan elite Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai organisasi teroris.

"Teroris memang sebutan yang tepat untuk rezim yang menghancurkan demonstrasi rakyatnya dengan darah,” kata kepala Uni Eropa Ursula von der Leyen.

Juru bicara militer Iran Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia menjanjikan pembalasan yang lebih brutal. Dia memperingatkan pembalasan negaranya terhadap serangan AS tidak akan terbatas, sebagaimana dilakukan saat perang pada Juni 2025.

Saat itu Iran menghancurleburkan Israel serta menghujani pangkalan militer AS di Al Udeid, Qatar, dengan rudal balistik sebagai pembalasan.

Menurut Akraminia, pembalasan kali ini akan menjadi respons yang lebih tegas dan cepat.

Dia menyebut kapal induk AS USS Abraham Lincoln akan menjadi target utama. Kapal induk tersebut memimpin gugus tempur yang dikirim Trump ke Timur Tengah untuk bersiaga menyerang Iran.

Selain itu, kata Akraminia, banyak pangkalan AS di Teluk berada dalam jangkauan rudal jarak menengah Iran.

“Jika Amerika melakukan kesalahan perhitungan seperti itu, tentu saja tidak akan berjalan seperti yang dibayangkan Trump, melakukan operasi cepat dan kemudian, 2 jam kemudian, meyatakan bahwa operasi telah selesai,” ujarnya, seperti dikutip dari AFP, Jumat (30/1/2026).

Seorang sumber pejabat negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, mengatakan kepada AFP, kekhawatiran akan serangan AS terhadap Iran sangat jelas.

“Itu akan membawa kekacauan di kawasan, akan merugikan perekonomian tidak hanya di kawasan tapi juga di AS dan menyebabkan harga minyak dan gas meroket,” ujarnya.

Pemimpin Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian melakukan panggilan telepon untuk membahas upaya yang dilakukan untuk meredakan ketegangan serta membangun stabilitas.

Militer Iran juga mengecam keputusan Uni Eropa yang memasukkan IRGC dalam daftar teroris dengan menyebutnya tidak logis, tidak bertanggung jawab, dan didorong oleh dendam.

Iran juga menuduh blok tersebut bertindak lebih disebabkan kepatuhan terhadap AS dan Israel.

Para pejabat Iran menuduh dua negara musuh bebuyutannya itu sebagai biang kerok aksi protes anti-pemerintah yang rusuh, membajak demonstrasi damai yang dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi.

Topik Menarik