Longsor Bantargebang Tewaskan 7 Orang, Menteri LH Jamin bakal Ada Tersangka
NEW YORK, iNews.id - Iran melayangkan protes keras terkait draf resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengutuk serangan Teheran terhadap negara-negara Arab. Iran menilai resolusi tersebut tidak adil karena memosisikannya sebagai agresor, padahal Teheran menjadi korban serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Pemerintah Iran menilai negara-negara Arab di kawasan Teluk justru berupaya membalikkan fakta dengan menggambarkan Iran sebagai pihak yang memulai agresi. Teheran menegaskan, selama ini negaranya menjadi target serangan militer AS dan Israel yang menimbulkan korban sipil besar.
Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, memperingatkan Dewan Keamanan agar tidak menyetujui draf resolusi yang diajukan negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC). Menurut dia, isi resolusi tersebut sarat kepentingan politik.
“Beberapa anggota Dewan (Keamanan PBB) berusaha untuk membalikkan peran serta posisi korban dan agresor,” kata Iravani, di Markas Besar PBB, New York, seperti dikutip dari Anadolu, Rabu (11/3/2026).
Draf resolusi GCC tersebut mengutuk serangan rudal dan drone Iran terhadap Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, serta Yordania. Resolusi itu juga menuntut penghentian segera semua serangan yang dilakukan Iran terhadap negara-negara tersebut.
Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar pemungutan suara pada Rabu waktu New York untuk menentukan apakah resolusi tersebut akan diadopsi atau tidak.
Iravani mengingatkan, perlakuan seperti itu tidak hanya berpotensi menimpa Iran, tapi juga negara lain di masa depan.
“Hari ini yang adalah Iran. Besok, bisa jadi negara berdaulat lainnya,” katanya.
Dia pun menyerukan kepada masyarakat internasional untuk segera bertindak menghentikan perang yang menurutnya telah menimbulkan penderitaan besar bagi rakyat Iran.
Menurut Iravani, serangan militer AS dan Israel sejak 28 Februari telah menewaskan lebih dari 1.300 warga sipil Iran. Selain itu, serangan tersebut juga menghancurkan ribuan fasilitas sipil di berbagai wilayah.
Dia merinci sebanyak 9.669 lokasi sipil telah rusak atau hancur, termasuk 7.943 rumah tinggal serta 1.617 pusat komersial dan layanan publik.
“Angka-angka ini terus meningkat setiap hari seiring dengan serangan militer berkelanjutan yang dilakukan AS dan Israel terhadap kejahatan perang di berbagai kota di Iran,” ujarnya.










