AS Tuding Iran Mulai Tebar Ranjau di Selat Hormuz: Jalur Minyak Dunia Terancam
WASHINGTON DC, iNews.id - Amerika Serikat (AS) menuding Iran mulai memasang ranjau di Selat Hormuz. Aksi itu dinilai dapat mengganggu pelayaran global.
Seorang pejabat AS membocorkan informasi intelijen kepada New York Times yang mengungkapkan Iran mulai mengerahkan kapal-kapal kecil untuk operasi tersebut.
Dilansir dari Anadolu, Jumat (13/3/2026), Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) disebut mengerahkan ratusan kapal yang bertujuan mengganggu kapal-kapal yang lebih besar, termasuk kapal-kapal Angkatan Laut AS.
Pejabat AS itu mengatakan, upaya pemasangan ranjau baru ini lambat dan tidak terlalu efisien, tetapi Iran tampaknya bertujuan untuk memasang ranjau lebih cepat dengan harapan dapat lebih menghalangi pelayaran melalui selat tersebut, jalur air vital yang biasanya dilalui sekitar 20 persen minyak mentah dan gas alam dunia.
Militer AS mengklaim telah menghancurkan 16 kapal Iran yang memasang ranjau, sementara Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran akan menghadapi konsekuensi berat jika memblokir aliran minyak.
"Jika karena alasan apa pun ranjau darat ditempatkan, dan tidak segera disingkirkan, konsekuensi militer bagi Iran akan berada pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya," tulis Trump lewat media sosial Truth Social.
Diketahui, Iran mengumumkan selat tersebut ditutup setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan pada 28 Februari. Penutupan Selat Hormuz mengganggu pelayaran dan menaikkan harga minyak.
Serangan telah menghantam beberapa kapal di daerah tersebut sejak saat itu, beberapa di antaranya diklaim oleh Iran.
Pada Selasa (10/3/2026), Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi membantah Iran memasang ranjau di selat tersebut.
Dalam pernyataannya, pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, mengatakan pengaruh untuk memblokir Selat Hormuz harus terus digunakan.
AS mengklaim ranjau di wilayah tersebut telah merusak pelayaran, dan dengan sekitar seperlima konsumsi minyak dunia dan perdagangan LNG melewati Selat tersebut. Aktivitas Iran tetap menjadi perhatian utama bagi militer dan badan intelijen AS.










