Eks Menkeu Fuad Bawazier Yakin RI Belum Krisis Minyak: Tak Perlu Antre BBM

Eks Menkeu Fuad Bawazier Yakin RI Belum Krisis Minyak: Tak Perlu Antre BBM

Terkini | inews | Selasa, 31 Maret 2026 - 21:10
share

JAKARTA, iNews.id - Mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier menilai, perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran belum terlalu berdampak besar bagi Indonesia. Dia mencontohkan, masyarakat tak perlu sampai panik dan ramai-ramai mengantre BBM di SPBU.

Hal itu disampaikan menanggapi kekhawatiran pasokan minyak untuk Indonesia terganggu akibat perang Iran.

"Sekarang ini alhamdulillah harga tidak naik. Sebetulnya nggak perlu antre-antre juga kalau sekarang itu, suplainya masih oke," kata Fuad dalam program Rakyat Bersuara bertajuk 'Perang Iran dan Ancaman Krisis, Benarkah?' di iNews, Selasa (31/3/2026).

Fuad mencontohkan, sudah ada indikasi kapal tanker Indonesia yang sempat tertahan bisa melewati Selat Hormuz lagi. Indonesia pun bakal kembali mendapatkan suplai minyak.

Dia menilai, kekhawatiran krisis yang ada sekarang masih hipotesis atau teori. Dia beranggapan Indonesia masih jauh dari krisis.

"Itu kan kalau, sekarang kan belum kejadian, itu kan masih hipotesis. Sampai sekarang ini belum kejadian. Saya belum begitu khawatir karena ini asumsinya, perang juga akan berakhir," ujar Fuad.

Sebelumnya, pakar ekonomi Anthony Budiawan mewanti-wanti salah satu dampak terburuk perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Salah satu dampak tersebut adalah ketiadaan bahan baku industri.

Anthony menilai, kenaikan harga barang seperti plastik masih bisa dianggap wajar. Sementara yang paling bahaya adalah jika bahan baku itu tidak ada atau sulit didapat. Dia mencontohkan, plastik memiliki peran vital karena dibutuhkan oleh banyak sektor industri.

"Naik aja sebetulnya dalam kondisi sekarang ini tidak begitu menjadi masalah, yang masalah adalah tidak ada bahan bakunya, itu yang lebih bahaya lagi," kata Anthony dalam acara yang sama.

Anthony menjelaskan, ketiadaan bahan baku seperti plastik tersebut dapat mengancam sektor manufaktur. Bahkan industri tersebut dapat melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap para pekerjanya jika mengalami krisis.

"Mereka tidak bisa produksi dan kemudian mereka harus mengurangi tenaga kerja. Ini yang lebih mengerikan," ujar Anthony.

Topik Menarik