Aksi Minum Oli Viral di Medsos, Dokter Tegaskan Berisiko Mematikan!
JAKARTA, iNews.id - Aksi minum oli viral di media sosial. Fenomena ini memicu kekhawatiran serius di kalangan tenaga kesehatan.
Praktisi kesehatan dr Dicky Budiman menegaskan bahwa tindakan tersebut bukan sekadar tren ekstrem, melainkan perilaku berbahaya yang setara dengan mengonsumsi racun industri.
Menurutnya, oli mesin sama sekali tidak dirancang untuk dikonsumsi manusia. Kandungannya merupakan campuran kompleks hidrokarbon yang dilengkapi berbagai aditif kimia, termasuk logam berat dan senyawa toksik lainnya.
"Ini bukan zat yang aman. Dampaknya bisa langsung menyebabkan keracunan akut," ujarnya saat dihubungi iNews.id, Kamis (9/4/2026).
Dia menjelaskan, saat oli masuk ke dalam tubuh, efek pertama yang muncul biasanya berupa gangguan saluran pencernaan. Gejalanya mulai dari mual, muntah, nyeri perut, hingga diare akibat iritasi gastrointestinal yang cukup berat.
Namun, bahaya tidak berhenti di situ. Dokter Dicky menyoroti risiko yang jauh lebih mematikan, yakni aspirasi pneumonitis atau kondisi ketika cairan oli masuk ke paru-paru saat seseorang muntah.
"Kalau muntahan masuk ke paru, itu bisa memicu peradangan paru akut, menyebabkan hipoksia, bahkan berujung kematian," katanya.
Selain menyerang sistem pencernaan dan pernapasan, paparan zat dalam oli juga dapat memengaruhi sistem saraf pusat. Dalam kondisi tertentu, seseorang bisa mengalami pusing, penurunan kesadaran, hingga gangguan neurologis akibat sifat toksik hidrokarbon.
Lebih jauh, dr Dicky mengingatkan bahwa dampak konsumsi oli tidak hanya bersifat jangka pendek. Dalam jangka panjang, paparan zat berbahaya tersebut berpotensi merusak berbagai organ vital.
"Bisa terjadi kerusakan hati, ginjal, gangguan darah karena logam berat, bahkan berisiko memicu kanker dan gangguan hormon," ujarnya.
Yang menjadi persoalan, lanjut dia, efek-efek tersebut tidak selalu muncul secara langsung. Kondisi ini kerap menimbulkan persepsi keliru di masyarakat bahwa konsumsi oli tidak berbahaya.
"Padahal kerusakan bisa terjadi diam-diam dan baru terasa saat sudah parah," katanya.
Fenomena ini tidak bisa dipandang remeh karena berpotensi menimbulkan dampak lebih luas dalam konteks kesehatan masyarakat. Ia mengingatkan adanya risiko social contagion effect, yakni kecenderungan perilaku berbahaya untuk ditiru secara massal.
"Kalau dibiarkan, ini bisa memicu klaster keracunan massal dan membebani fasilitas kesehatan seperti IGD dan ICU," katanya.
Dia pun mencontohkan, kasus serupa pernah terjadi di berbagai negara saat pandemi Covid-19 ketika masyarakat terpengaruh misinformasi dan mengonsumsi zat berbahaya seperti disinfektan, metanol, hingga cairan pemutih. Akibatnya, banyak korban mengalami keracunan akut, gagal napas, kerusakan organ, bahkan kematian.
Belajar dari pengalaman tersebut, dr Dicky menekankan pentingnya respons cepat dan terkoordinasi dari pemerintah. Klarifikasi berbasis sains harus segera disampaikan kepada publik untuk melawan misinformasi yang terlanjur menyebar.
Selain itu, ia juga mendorong penguatan literasi kesehatan masyarakat agar mampu memilah informasi yang benar, serta penindakan terhadap konten berbahaya di media sosial yang berpotensi mendorong perilaku serupa.
"Ini bukan hanya soal edukasi, tapi juga soal komunikasi risiko yang harus diperbaiki secara sistematis," ujarnya.










