Selat Hormuz Penuh Ranjau, Harga Minyak Bakal Naik sampai Akhir Tahun
WASHINGTON, iNews.id - Bayang-bayang lonjakan harga energi global kian nyata setelah Selat Hormuz dilaporkan dipenuhi ranjau laut. Kondisi ini diperkirakan akan terus mendorong kenaikan harga minyak dunia, bahkan berpotensi berlangsung hingga akhir tahun.
Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon), dalam laporannya kepada Kongres, seperti dilaporkan surat kabar The Washington Post, Rabu (22/4/2026), melaporkan pembersihan ranjau di jalur vital tersebut bisa memakan waktu hingga 6 bulan. Artinya, gangguan terhadap lalu lintas kapal tanker minyak tidak akan selesai dalam waktu dekat, sehingga tekanan terhadap harga energi global sulit dihindari.
Lebih mengkhawatirkan lagi, proses pembersihan ranjau baru bisa dilakukan secara efektif setelah konflik antara AS dan Iran benar-benar berakhir. Artinya, perhitungan kenaikan harga minyak sampai akhir tahun tersebut menggunakan asumsi perang berakhir dalam waktu dekat ini.
Selama ketegangan masih berlangsung, risiko terhadap keamanan jalur pelayaran utama dunia itu tetap tinggi.
Laporan surat kabar The Washington Post menyebut, Iran diduga menempatkan sedikitnya 20 ranjau di dalam dan sekitar jalur utama Selat Hormuz. Beberapa ranjau bahkan dipasang dari jarak jauh menggunakan teknologi GPS, membuat proses pendeteksian dan penjinakan menjadi jauh lebih rumit.
Situasi ini membuat anggota Kongres AS dari kedua partai, Republik maupun Demokrat, dilanda kekhawatiran besar. Mereka menilai gangguan berkepanjangan terhadap jalur distribusi energi global akan berdampak langsung pada ekonomi dunia, terutama melalui lonjakan harga minyak yang sulit dikendalikan.
Meski demikian, Donald Trump sebelumnya mengklaim Iran telah atau sedang menyingkirkan ranjau tersebut, bahkan sebagian telah dihancurkan dalam serangan militer AS. Pernyataan ini belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran pasar.
Di sisi lain, Iran membantah keras tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai propaganda AS. Namun langkah Korps Garda Revolusi Islam yang merilis peta jalur aman di kawasan itu justru mengindikasikan adanya potensi bahaya di rute utama pelayaran.










