DPR Dorong Pemerintah Evaluasi Harga BBM Nonsubsidi usai Minyak Dunia Anjlok
JAKARTA, iNews.id - Anggota Komisi VI DPR, Mufti Anam meminta pemerintah mengevaluasi harga BBM nonsubsidi menyusul anjloknya harga minyak dunia usai kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Hal ini berdampak pada pembukaan akses pelayaran pada Selat Hormuz, yang merupakan jalur perdagangan minyak.
Legislator PDI Perjuangan ini menyambut baik kesepakatan damai antara AS dan Iran. Menurutnya, hal tersebut bisa menurunkan harga minyak dunia. Dia menilai, rakyat perlu merasakan manfaat dari turunnya harga minyak dunia.
"Ketika perang memanas, rakyat diminta memahami kenaikan harga BBM karena harga minyak dunia melonjak. Maka ketika perang mereda, Selat Hormuz kembali aman, dan harga minyak dunia turun, rakyat juga menuntut hal yang sama, manfaatnya harus segera dirasakan," ucap Mufti kepada wartawan, Selasa (16/6/2026).
Dia pun mewanti-wanti pemerintah untuk tidak menunda penyesuaian harga BBM nonsubsidi.
Hasil Chelsea vs Manchester City di Final Piala FA 2025-2026: The Citizens Juara Usai Menang 1-0
"Jangan sampai logikanya hanya berlaku satu arah. Saat harga minyak naik, harga BBM cepat menyesuaikan. Tetapi saat harga minyak turun, yang muncul justru berbagai alasan untuk menunda penyesuaian," tuturnya.
Mufti menilai, harga BBM bukan hanya mmepertaruhkan harga, tetapi ongkos hidup jutaan rakyat. Sebab, setiap kenaikan BBM selalu berdampak ke tarif transportasi, biaya logistik, harga pangan, biaya produksi UMKM, hingga daya beli masyarakat.
"Karena itu pemerintah dan Pertamina harus segera mengevaluasi harga BBM secara transparan. Jika memang ruang penurunan sudah tersedia, jangan ditunda," ujarnya.
"Rakyat tidak boleh terus menjadi pihak yang pertama menanggung dampak gejolak global, tetapi terakhir menikmati manfaat ketika keadaan membaik," kata dia.
Sebagai informasi, harga minyak dunia mengalami penurunan pada awal perdagangan sesi Asia, Senin (15/6/2026). Hal itu terjadi usai Amerika Serikat (AS) dan Iran mengumumkan kesepakatan damai yang membuka kembali akses pelayaran melalui Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia.
Harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, turun 4 persen menjadi 83,81 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang diperdagangkan di Amerika Serikat merosot 4,7 persen ke level 80,89 dolar AS per barel.
Penurunan harga tersebut terjadi setelah meredanya ketegangan geopolitik yang selama beberapa bulan terakhir mengguncang pasar energi global. Selat Hormuz sebelumnya ditutup secara efektif setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari 2026. Teheran juga sempat mengancam akan menyerang kapal-kapal yang melintasi jalur tersebut.
Selat Hormuz memiliki peran strategis karena menjadi jalur pengiriman sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan gas alam cair (LNG). Gangguan di kawasan itu membuat harga energi melonjak tajam selama konflik berlangsung.
Sebelum perang pecah, harga minyak Brent berada di kisaran 70 dolar AS per barel. Namun, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah sempat mendorong harga hingga mendekati 120 dolar AS per barel.









