Dasar Laut Terangkat hingga 2 Meter, Gempa Dahsyat M7,8 Ubah Peta Pesisir Filipina
MANILA, iNews.id - Gempa bumi dahsyat bermagnitudo 7,8 yang mengguncang Mindanao, Filipina, pada 8 Juni lalu tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan besar, tapi juga mengubah bentang alam pesisir negara tersebut. Pergeseran tektonik akibat gempa membuat dasar laut terangkat hingga 2 meter dan mengubah garis pantai di sejumlah wilayah.
Fenomena tersebut terjadi di pesisir Provinsi Sarangani dan Davao Occidental. Akibat pengangkatan daratan, dasar laut yang sebelumnya berada di bawah permukaan air kini muncul ke atas. Bahkan, garis pantai di beberapa lokasi dilaporkan bertambah panjang hingga sekitar 200 meter.
Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina (Phivolcs) menjelaskan, perubahan geografis itu dipicu oleh pergeseran di Palung Cotabato yang berada sekitar 50 km dari pantai selatan Mindanao.
"(Pergeseran Palung Cotabato) mengangkat sebagian garis pantai Sarangani dan Davao Occidental ke atas, memperlihatkan dasar laut yang sebelumnya terendam," demikian pernyataan Phivolcs, dikutip Rabu (17/6/2026).
Palung Cotabato dikenal sebagai salah satu kawasan paling aktif secara seismik di Filipina. Pada Januari lalu, ribuan gempa bumi kecil juga tercatat terjadi di wilayah tersebut, menandakan tingginya aktivitas tektonik yang masih terus berlangsung.
Fenomena yang dikenal sebagai "pengangkatan pantai" (coastal uplift) pertama kali dilaporkan warga setempat 2 hari setelah gempa terjadi. Warga awalnya khawatir karena mencium bau menyengat dari wilayah pesisir yang berubah secara drastis.
Setelah dilakukan pemeriksaan, bau tersebut diketahui berasal dari biota laut yang mati akibat terpapar udara terbuka. Terumbu karang, padang lamun, serta berbagai organisme laut yang sebelumnya hidup di bawah air mendadak berada di permukaan setelah dasar laut terangkat.
Departemen Lingkungan Filipina mengungkapkan, kondisi tersebut mengancam kelangsungan ekosistem pesisir. Foto-foto yang dirilis lembaga itu menunjukkan hamparan terumbu karang yang menyembul dari laut disertai bangkai ikan dan organisme laut lainnya.
"Terumbu karang dan padang lamun yang terpapar ini mulai mati bersama organisme penghuninya seperti ikan karang, belut, kerang, dan cangkang," demikian pernyataan Departemen Lingkungan Filipina.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana Filipina (NDRRMC) melaporkan hingga Selasa (16/6/2026), jumlah korban tewas akibat gempa mencapai 68 orang, sementara 33 lainnya masih hilang. Sebanyak 1.339 orang mengalami luka-luka.
Gempa tersebut juga berdampak pada sekitar 338.000 kepala keluarga atau sekitar 1,38 juta penduduk di berbagai wilayah Mindanao. Selain memicu kerusakan luas, gempa juga menyebabkan tsunami setinggi hampir 1 meter yang menghantam sejumlah kawasan pesisir.









