AS Tak Akan Usik Program Rudal Balistik Iran dalam Perundingan
ISLAMABAD, iNews.id - Program rudal Iran dipastikan tak akan disentuh oleh Amerika Serikat (AS) dalam perundingan lanjutan kedua negara, pasca-penandatanganan MoU perjanjian damai. Ini sejalan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menegaskan Iran punya hak untuk memiliki rudal balistik demi menjamin keamanan nasionalnya.
Pernyataan itu dipertegas dengan ucapan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang mengatakan, program rudal balistik Iran bukan bagian dari MoU Islamabad yang diteken oleh AS dan Iran pada 17 Juni lalu.
“Saya bisa menyampaikan, dengan wewenang penuh, MoU ini tidak menyebutkan tentang rudal balistik. Itu tidak pernah dibahas, tidak pernah ada dalam agenda, dan pihak Iran bahkan tidak pernah ingin membahasnya," kata Sharif, usai bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Islamabad, Selasa (23/6/2026), seperti dikutip dari Anadolu.
Pakistan merupakan negara mediator utama perundingan damai AS-Iran.
"Jadi itu bukan kesan, ini adalah fakta," kata Sharif, menegaskan.
Trump dan Pezeshkian menandatangani perjanjian damai yang diberi nama MoU Islamabad secara elektronik pada 17 Juni, 2 hari lebih cepat dari jadwal seharusnya.
MoU itu mengamanatkan penghentian perang antara AS, Israel, dan Iran, termasuk menghentikan serangan Israel terhadap Lebanon.
Sharif menegaskan, tidak boleh ada standar ganda terkait hak untuk memiliki persenjataan.
“Tidak boleh ada standar ganda, dua standar, bahwa beberapa negara boleh memiliki rudal balistik dan Iran tidak boleh memilikinya. Anda tidak bisa menerima kemunafikan semacam ini,” ujarnya.
Lebih lanjut Sharif mengindikasikan ada pihak yang ingin merusak atau menggagalkan kesepakatan damai AS dengan Iran.
“Mereka tidak ingin bangsa Iran, sebuah bangsa besar, bangkit dari puing-puing perang dan mencapai puncak kejayaan,” ujarnya.
Sharif juga memperingatkan terhadap upaya sabotase oleh mereka yang tidak senang dengan perdamaian ini.
Pakistan dan Iran, lanjut dia, selalu berdiri berdampingan di masa-masa sulit. Kedua negara akan bekerja sama untuk memperkuat hubungan di bidang perdagangan, ekonomi, investasi, dan sektor lainnya.
Sharif menegaskan, Pakistan akan terus memainkan peran sebagai mediator seraya menegaskan akan terus mengupayakan perdamaian abadi di kawasan.
Kunjungan Pezeshkian ke Pakistan menandai perjalanan luar negeri pertamanya sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari.
Dalam pertemuan itu Sharif menyampaikan belasungkawa atas hilangnya nyawa ribuan nyawa dalam perang tersebut, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Dia juga berterima kasih kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman, dan Presiden Mesir Abdel Fattah Al Sisi atas dukungan penuh mereka terhadap upaya mediasi untuk mengakhiri perang.









