Taufik Hidayat Diduga Punya Kecenderungan Psikopat, Ini Alasannya!
JAKARTA, iNews.id - Psikolog Unit Layanan Psikologi Terpadu (ULPT) Universitas Islam Bandung, Yunita Sari, menilai Taufik Hidayat (TH), terduga pelaku penyekapan dan penganiayaan terhadap kekasihnya, YTR, memiliki kemungkinan kecenderungan psikopat. Apa alasannya?
Menurut Yunita, penilaian tersebut didasarkan pada pola perilaku yang muncul dalam kasus tersebut, meski diagnosis pasti tetap harus melalui asesmen klinis. Meski begitu, diagnosis pasti harus melalui asesmen klinis.
"Perilaku TH ada kemungkinan memiliki kecenderungan psikopat yang ditandai dengan ketiadaan empati, manipulasi, dan pelanggaran hak orang lain secara terus-menerus tanpa rasa bersalah. Selain itu, adanya penyiksaan yang sadis juga menunjukkan kemungkinan kecenderungan gangguan sadisme seksual," kata Yunita saat dihubungi iNews.id, Minggu (28/6/2026).
Yunita menegaskan bahwa dugaan tersebut belum dapat dijadikan diagnosis. Menurut dia, seseorang hanya dapat dipastikan mengalami gangguan kepribadian tertentu setelah menjalani pemeriksaan psikologis dan asesmen klinis secara langsung oleh tenaga profesional.
Jamaah Haji Diingatkan Tak Lontar Jumrah di Luar Jadwal, Hindari Cuaca Panas dan Kepadatan
Dia menjelaskan, tindakan yang diduga dilakukan Taufik Hidayat terhadap YTR merupakan bentuk ekstrem dari 'coercive control' atau kontrol paksa dan 'extreme intimate partner violence'. Dalam kondisi tersebut, pelaku memandang pasangan sebagai objek yang harus dikendalikan sepenuhnya, bukan sebagai individu yang memiliki hak dan kebebasan.
Menurut Yunita, dugaan penyiksaan yang menyebabkan korban mengalami luka fisik serius menunjukkan adanya unsur sadisme. Sementara dugaan penyekapan selama tiga tahun dinilai sebagai bentuk perampasan hak dasar korban untuk hidup bebas dan menciptakan lingkungan yang dipenuhi rasa takut.
"Luka fisik yang sadis menunjukkan adanya elemen sadisme, di mana pelaku mendapatkan kepuasan atau pelepasan ketegangan psikologis dengan cara menyakiti dan merendahkan martabat korbannya secara fisik," ujarnya.
228 Fasilitas Militer AS di Timur Tengah Diserang Rudal Iran, Begini Dampak yang Ditimbulkan
Lebih lanjut, Yunita mengatakan tindakan penyekapan dalam hubungan umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba. Pelaku biasanya memulai dengan perilaku posesif yang dianggap sebagai bentuk perhatian, kemudian berkembang menjadi pembatasan terhadap aktivitas, pergaulan, hingga memutus hubungan korban dengan keluarga dan teman-temannya.
"Awalnya mungkin berupa cemburu yang dianggap perhatian, kemudian membatasi siapa yang boleh ditemui korban, mengontrol keuangan, hingga secara perlahan mengisolasi korban dari lingkungan sosialnya," jelasnya.
Dia menambahkan, ketika korban akhirnya tinggal bersama pelaku, kondisi isolasi sosial yang telah terbentuk membuat korban semakin sulit melepaskan diri dari hubungan tersebut.
Kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap YTR kini menjadi perhatian publik setelah terungkap korban diduga mengalami kekerasan selama tiga tahun.
Selain menimbulkan luka fisik yang serius, kasus tersebut juga memunculkan pembahasan mengenai pola kekerasan dalam hubungan dan pentingnya mengenali tanda-tanda abusive relationship' sejak dini.









