Fakta Baru! Trump Abaikan Peringatan Intelijen dan Militer soal Dampak Perang Iran
WASHINGTON, iNews.id - Fakta-fakta baru seputar perang Amerika Setikat (AS) terhadap Iran kembali diungkap. Kali ini surat kabar The Wall Street Journal (WSJ) membeberkan peristiwa menjelang serangan AS ke Iran pada akhir Februari lalu.
Mengutip keterangan beberapa sumber pejabat AS, WSJ mengungkap Presiden Donald Trump memerintahkan serangan meski ada peringatan tegas dari kepala-kepala badan intelijen, wakil presiden, serta penasihat militer senior. Peringatan tersebut adalah konflik dengan Iran bisa memicu krisis energi global serta melahirkan kepemimpinan baru Iran yang lebih keras.
Disebutkan, Direktur Intelijen Nasional saat itu, Tulsi Gabbard, mengatakan kepada Trump, membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, kemungkinan besar akan memunculkan penerus yang lebih garis keras, Gabbard juga memperingatkan, serangan AS juga akan berdampak pada penutupan Selat Hormuz.
Jadwal dan Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026, Klik di Sini!
Sumber pejabat itu juga mengatakan, Wakil Presiden JD Vance menganjurkan pendekatan yang lebih hati-hati kepada Trump dan mengutamakan negosiasi. Alasannya, kesepakatan melalui diplomatik akan memakan biaya lebih rendah dibandingkan perang yang bahkan bisa menimbulkan konsekuensi tak terkendali.
Sementara para pejabat tinggi militer, termasuk Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Pemimpin Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, memaparkan opsi serangan yang terbatas kepada Trump.
Pejabat senior lain menyampaikan kekhawatiran mengenai dampak perang yakni kekurangan amunisi dan risiko terhadap personel militer.
Namun Trump dilaporkan mengabaikan kekhawatiran-kekhawariran tersebut, dengan mengatakan militer bisa mengatasi masalah apa pun yang muncul.
WSJ menyebutkan, Trump awalnya merasa puas dengan dimulainya perang, bahkan "membusungkan dada" di sebuah acara penggalangan dana Partai Republik di Mar-a-Lago saat diberi tahu tentang tewasnya Khamenei.
Namun, setelah itu tekanan datang silih berganti, dipicu mandeknya kemajuan yang dicapai serta gencarnya perlawanan yang diberikan Iran.
Selain itu, seiring melonjaknya harga bahan bakar minyak (BBM), para pemimpin negara Timur Tengah, seperti Arab Saudi dan Qatar, mendesak Gedung Putih untuk mencari solusi diplomatik.
Jajak pendapat di AS sebelumnya menunjukkan, hampir 80 persen warga mendukung kesepakatan untuk mengakhiri perang. Kondisi itu tampaknya mendorong Trump untuk mengupayakan gencatan senjata sementara pada Juni.
Beberapa anggota Partai Republik juga memperingatkan Trump mengenai potensi dampak perang berkepanjangan terhadap peluang kemenangan politisi Partai Republik dalam pemilu paruh waktu pada November.










