Trump Murka Pangkalan AS Digempur Habis-habisan Iran, Ancam Serang Lebih Dahsyat
WASHINGTON, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menyerang Iran lebih dahsyat setelah militernya menggempur Pulau Larak di Selat Hormuz, Minggu (30/8/2026) malam waktu setempat.
Serangan drone itu dibalas Iran dengan menggempur pangkalan-pangkalan militer AS di Yordania dan Uni Emirat Arab (UEA) pada Senin (31/8/2026) dini hari.
Penyataan itu disampaikan Trump mengomentari serangan pembalasan Teheran yang disebut media Iran berhasil menghancurkan depot-depot militer AS.
“Kita akan menyerang mereka dengan keras. Akan ada pembalasan,” katanya, kepada Fox News, dikutip Selasa (1/9/2026).
Trump juga mengeklaim militer AS telah membantu sekitar 30 kapal dagang melintasi Selat Hormuz setiap malam.
Dia mengatakan Selat Hormuz, yang telah diblokade Iran sejak awal perang AS-Israel pada akhir Februari, kini dalam kondisi sangat baik.
“Kita mengambil alih. Banyak sekali kapal yang berhasil melintasinya tadi malam. Seperti yang Anda ketahui, dengan bantuan angkatan laut, kita telah membantu rata-rata 30 kapal setiap malam,” ujarnya.
Namun klaim Trump itu tampaknya jauh dari kenyataan. Laporan media mengungkap, setelah aksi saling serang AS dan Iran pada Minggu dan Senin hanya lima kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Iran juga memperingatkan, setiap lokasi yang digunakan untuk melancarkan serangan AS ke wilayahnya akan menjadi sasaran.
Dalam pernyataan bersama, Staf Umum Angkatan Bersenjata dan Markas Besar Pusat Khatam Al Anbiya menyatakan AS terus menggunakan wilayah, ruang udara, dan fasilitas negara-negara di Timur Tengah. Padahal pemerintahan negara Timur Tengah berjanji tak terlibat dalam serangan serta tak mengizinkan wilayah mereka digunakan untuk menyerang negara lain.
Iran menegaskan penghormatannya terhadap kedaulatan wilayah negara-negara tetangga namun tidak akan memberi toleransi terhadap agresi. Pernyataan itu juga memperingatkan serangan lebih lanjut terhadap Iran akan dibayar dengan pembalasan yang jauh lebih dahsyat.
"AS tidak punya pilihan selain meninggalkan kawasan ini," bunyi pernyataan.










