Rastra Sewakottama di Papua, Kisah Pengabdian Brigadir Amharet di Zona Merah dengan Senjata Kasih
PUNCAK JAYA, iNews.id - Seorang polisi berambut gimbal tanpa seragam taktis berdiri di tengah warga saat kabut tebal menyelimuti Kota Mulia, Ibu Kota Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah. Wajahnya akrab dengan garis-garis senyum masyarakat pegunungan Papua yang kerap menjadi kaku karena konflik.
Dia adalah Brigadir Amharet Rirei, putra asli Papua asal Serui, Biak, polisi humanis yang berani masuk ke tengah pertikaian warga untuk mencegah perang suku.
"Tuhan yang atur semua. Jangan takut terhadap kematian sebab itu akan menghantui kita setiap saat," ujarnya dalam podcast Humas Presisi Polda Papua dikutip Jumat (9/1/2026).
Kalimat ini bukan kepasrahan, melainkan keberanian yang lahir dari iman teguh dan kepercayaan kepada masyarakat yang sudah dianggapnya sebagai saudara.
Selama 12 tahun, dia mendedikasikan tugas dan kariernya di "Zona Merah" dan tak pernah meminta mutasi. Sejak lulus pendidikan Polri pada Februari 2013, Amharet langsung diterjunkan ke Puncak Jaya, daerah dengan narasi kekerasan lebih sering muncul dibanding cerita tentang kehidupan warganya yang sederhana dan hangat.
Keberaniannya bukan tanpa alasan, selama ini menjadi sosok polisi yang melakukan pendekatan humanis dalam penegakan hukum ke masyarakat.
Dia menjalankan tugasnya dengan lebih mengedepankan kasih sayang, empati, dan solusi damai, daripada kekerasan atau penggunaan senjata fisik secara langsung hingga mendapat kepercayaan masyarakat.
Brigadir Amharet menemukan makna terdalam dari Rastra Sewakottama, pedoman hidup bagi setiap Bhayangkara untuk menjadi pelayan terbaik bagi bangsa dan rakyat. Falsafah itu bukan sekadar menjadi bordiran benang emas di seragamnya, namun menjadi detak jantung dalam pengabdian.
Bagi Brigadir Amharet, Rastra Sewakottama bukan kalimat yang dihafal saat pendidikan dan terpatri pada lambang Polri yang selalu dia kenakan, tetapi nilai yang dijalani dalam keseharian. Dia memaknainya sebagai bentuk kehadiran, kesetiaan, dan keberanian untuk melayani masyarakat dengan kasih.
Saksi Sebut CMNP Sudah Terima Uang Jual Beli NCD, Hotman Paris: Terbukti Bukan Tukar Menukar!
Dia menjadi polisi pelindung hak masyarakat untuk mendapat rasa aman. Menjadi polisi pelayan bagi warga untuk mendapat hak atas rasa aman dan menjadi polisi pengayom sebagai tempat sandaran masyarakat untuk menciptakan rasa aman. Selain itu juga menjadi polisi yang menegakan hukum untuk semua masyarakat.
Brigadir Amharet hadir bukan sebagai aparat yang menjaga jarak, melainkan hidup bersama masyarakat sebagai saudara. Dalam kesehariannya, dia tidak menjalani hidup seperti polisi pada umumnya di wilayah konflik.
Dia tidak tinggal di asrama yang dijaga ketat, namun memilih hidup di rumah-rumah warga. Dia jarang mengenakan seragam dinas, memilih untuk menyatu dalam kearifan lokal, meminum kopi bersama para pria, menyapa mama-mama di pasar dan bercanda dengan anak-anak di kebun. Kedekatan ini begitu mendalam hingga identitas kulturalnya melebur.
Rambut gimbalnya pun terbentuk secara alami karena saking menyatunya dengan kehidupan di lapangan hingga tak sempat menyisir rambut. Bagi warga, dia bukan lagi orang luar, melainkan bagian dari keluarga mereka.
"Kalau mau bilang, saya lebih condong ke orang (Suku) Dani," katanya.
Sebagai anggota Intelkam, kekuatannya bukan pada magasin peluru, melainkan pada kepercayaan. Yang membedakannya dari banyak aparat lainnya adalah konsistensi.
Dia berjalan kaki maupun mengendari motor untuk selalu hadir saat warga berkebun, tertawa, dan menjalani hidup sehari-hari. Sebab menurutnya, polisi adalah makhluk sosial yang harus mampu beradaptasi.
Di sanalah nilai Tata Tentrem Kerta Raharja yang menjadi falsafah Polri menemukan bentuknya, ketertiban dan keamanan yang tumbuh dari ketenteraman dan kesejahteraan sosial, baik kesejahteraan masyarakat maupun anggota.
Dia berdialog, mendengar keluhan, dan membangun kepercayaan jauh sebelum konflik muncul. Karena itu, masyarakat mengenalnya secara personal, memercayainya, dan menganggapnya bagian dari mereka. Kepercayaan itulah yang menjadi modal terbesarnya.
Keberanian ini diuji saat perang suku antarkelompok warga pecah akibat tensi politik pemilian kepala daerah. Di saat panah dan batu beterbangan, Brigadir Amharet melangkah ke tengah medan laga. Tanpa rompi anti-peluru, tanpa senjata, dia berteriak dalam bahasa lokal, memohon perdamaian di tengah desing bahaya.
“Rasa takut untuk kena panah atau batu itu tidak ada,” katanya.
Soroti Restitusi Pajak CMNP, Hotman Paris: Kalau NCD Palsu, Kenapa Terima Pengembalian Pajak?
Aksinya bukan tanpa risiko ancaman keselamatan. Dia memahaminya. Bahkan dia pernah terluka di kaki akibat terkena panah yang menjadi saksi bisu pengabdiannya. Namun, sebuah momen mengharukan terjadi. Masyarakat yang bertikai justru membantunya, mereka memotong anak panah dan mengobatinya secara tradisional agar racunnya keluar. Di sana, nyawa Amharet diselamatkan oleh kasih sayang orang-orang yang dia lindungi.
Di Puncak Jaya, ekonomi adalah tantangan tersendiri. Namun, keterbatasan logistik tak menghalangi jemarinya untuk berbagi. Menggunakan uang pribadinya, dia membantu kebutuhan warga tanpa publikasi, tanpa pencitraan.
Dia menjalankan pendekatan humanis dengan empati dan solusi damai. Baginya, menjadi polisi adalah menjadi pelayan untuk memberikan hak masyarakat atas rasa aman, menjadi pelindung sekaligus pengayom tempat warga bersandar.
Brigadir Amharet Rirei telah membuktikan bahwa penegakan hukum paling efektif tidak dimulai dengan tarikan pemicu senjata, melainkan dengan ketulusan hati. Di Tanah Mulia, dia terus berjalan, menjaga kedamaian dengan cinta yang lebih dingin dari suhu Puncak Jaya, namun lebih hangat dari matahari pagi di Pegunungan Jayawijaya.
Brigadir Amharet Rirei membuktikan bahwa penegakan hukum paling kuat tidak selalu dimulai dari tarikan pelatuk senjata. Di Puncak Jaya, dia menjaga keamanan dengan ketulusan hati, kedekatan, dan cinta.
Di tanah dingin Pegunungan Jayawijaya, polisi humanis ini menjalani Rastra Sewakottama bukan sebagai slogan, melainkan sebagai napas hidup.
Di Puncak Jaya, Brigadir Amharet membuktikan bahwa peluru mungkin bisa menghentikan langkah, namun hanya cinta yang mampu menghentikan perang.










