Sekum PP Muhammadiyah: Ramadan Bulan Kerukunan
Ramadan tidak hanya sebagai bagian dari beribadah kepada Allah, tapi juga bagian dari membangun kerukunan, membangun persatuan khususnya ukuwah Islamiah, persatuan bangsa atau ukuwah wathaniah. Ramadan momentum untuk menjadi lebih baik secara bersama-sama berusaha sebaik mungkin dapat mengisinya dengan berbagai amalan ibadah sesuai dengan yang disyariatkan.
Ajakan itu disampaikan Sekretaris Umum (Sekum) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu’ti saat memberikan kuliah Tarawih di Masjid Al Falah, Bendungan Hilir, Sudirman, Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026).
Baca juga: Tahap 3 SPPG Diresmikan, Abdul Mu’ti Tegaskan Muhammadiyah Dukung MBG
Lebih lanjut Mu’ti menjelaskan berbagai fadhilah Ramadan, antara lain sering disebut dengan syahru maghfirah, atau bulan ampunan, seperti diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan sahabat Abu Hurairah, Rasulullah s.a.w bersabda, “Man shoma romadhona imanan wahtisaban ghufiro lahu maa taqoddama min dzanbih” Barang siapa yang menunaikan puasa Ramadan karena iman dan mengharapkan pahala, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR. Bukhari No 2014).
Karena itu pula dianjurkan memperbanyak istighfar, memperbanyak membaca doa yang disyariatkan, di antaranya “Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'ann?”, Yaa Allah Engkau adalah Tuhan yang maha memaafkan mengampuni, Engkau mencintai mereka yang meminta maaf maka ampunilah dosa kami.Selain itu Ramadhan juga disebut sebagai syahru shiyam, di dalamnya diwajibkan menunaikan puasa Ramadhan meskipun berat seperti ditegaskan dalam Al Baqarah ayat 184. "...Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya. Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui".
Baca juga: Tiga Makna Isra Mikraj Menurut Abdul Mu'ti
Menurut Mu’ti puasa menjadi terasa lebih ringan, karena selain menunaikannya dengan penuh keikhlasan juga karena dilakukan secara bersama.
Banyak hal ternyata pelaksanaan ibadah itu sebagian ditentukan oleh lingkungan sosial. Dalam teori sosiologi agama disebut dengan kesalehan sosial atau kesalehan yang berasal dari lingkungan dimana berada. Suasana puasa memberikan dorongan spiritual dan kekuatan mental untuk dapat mengatasi berbagai aral dan kesulitan. “Di tempat kerja semua teman berpuasa, kita akan memiliki semangat untuk berpuasa. Begitu pula dalam keluarga semuanya berpuasa, maka semangat kita berpuasa menjadi semakin kuat “, Mu’ti mencontohkan.
Ramadan juga sering disebut sebagai syahru Quran. Bulan Al-Qur'an menurut Mu’ti bermakna dua. Pertama makna dalam pandangan sejarah, karena Al-Qur'an diturunkan di bulan Ramadan. Pemahaman itu merujuk surat al-Baqarah ayat 185.
Syahru ramadanal-lazi unzila fihil-qur'anu hudal lin-nasi wa bayyinatim minal-huda wal-furqan(i). “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)”.
Al-Qur'an turun pertama kali pada bulan Ramadan tanggal 17 yang seringkali diperingati sebagai Nuzulul Quran. Secara nubuah menjadi pertanda diangkatnya Muhammad SAW sebagai Rasulullah.
Kedua syahru Quran bulan di dalamnya memperbanyak membaca Al-Qur'an. Rasulullah Muhammad pada bulan Ramadhan itu senantiasa tadarus dengan Jibril yang kemudian menjadi tradisi melaksanakan tadarus Al-Qur'an. Menurut Mu’ti memperbanyak itu lebih ditekankan pada frekuensinya daripada jumlahnya. Dengan demikian membaca Al-Qur'an akan lebih memberikan pengaruh secara spiritual apabila membacanya dengan tartil. Dalam Al Quran disebutkan, “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil”. (al_Muzammil ayat 4)
“Banyak membaca Al-Qur'an dengan pelan-pelan, dengan penuh penghayatan dan penuh harapan agar mendapatkan hidayat dan mendapatkan kebaikan dalam kehidupan kita,” jelas Mu’ti.
Kemuliaan lain Ramadan juga sering disebut sebagai syahru sadaqah, bulan yang di dalamnya banyak bersedekah. Dalam hadis qudsi disebutkan Rasulullah Muhammad manusia yang paling dermawan. Kedermawanan Nabi semakin meningkat di bulan Ramadan.
Ramadan juga menjadi shahru ukuwah, bulan persaudaraan di dalamnya banyak sekali dilaksanakan kegiatan sosial.Buka bersama menurut Mu’ti awalnya dari pengamalan terhadap hadits Nabi yang menjelaskan, “barang siapa yang memberi makan orang yang berbuka, dia mendapatkan pahala sama dengan mereka yang berbuka tanpa mengurangi pahala. Tradisi buka bersama di Indonesia diikuti oleh masyarakat berbagai agama yang berpuasa maupun tidak berpuasa. Mu’ti berpandangan itu menunjukkan betapa rahmat dari pengamalan ajaran islam dirayakan oleh semua kalangan masyarakat apapun agamanya. “Bahkan buka bersama itu menjadi momen di mana semua orang bahagia”, ucapnya.
Hadist Nabi menyebutkan Lish-shoo'imi farhatani yafra-huma: idzaa afthara fariha bifithrihi, wa idzaa laqiya Rabbahu fariha bishawmihi. "Bagi orang yang berpuasa akan meraih dua kegembiraan: kegembiraan ketika berbuka puasa, dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya" (HR. Bukhari dan Muslim).
Dua Kebahagiaan
Bagi orang yang berpuasa itu ada dua kebahagiaan. Pertama, bahagia ketika berbuka Ketika sedang berbuka itu sebenarnya bahagia. Kemudian kebahagiaan yang kedua adalah ketika nanti di hari akhir nanti bertemu Allah di surga.Karena itu Ramadan menjadi bulan persatuan, bulan kerukunan syahru ukuwah. “Saya kira kalau berbuka bersama itu tidak ada pertanyaan misalnya kelompok rukyat atau hisab, itu tidak ada perdebatan siapa yang berbuka duluan, semuanya sama” seloroh Mu’ti mengundang tawa jamaah.Di Masjid Al Falah, Abdul Mu’ti menyaksikan lomba anak-anak mewarnai gambar masjid, dan meresmikan Kantor Layanan Lazis Muhammadiyah, dilanjutkan buka bersama. Usai salat Tarawih Abdul Mu’ti dikerumuni murid-murid yang antri minta tanda tangan tugas sekolah dari dirinya selaku Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.
Setelah salat Tarawih Mendikdasmen menandatangani tugas-tugas Ramadan siswa di Masjid Al Falah, Bendungan Hilir, Sudirman, Jakarta Pusat.










