Dari Kitab Kuning ke Data Mining: Transformasi Literasi dalam Organisme Pesantren
Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta
Kami masih ingat percakapan dengan seorang tamu pekan lalu. "Apa bedanya santri dulu dan sekarang?" tanyanya. Dulu, santri cukup paham kitab kuning. Sekarang, mereka juga harus paham data mining. Bukan karena kitab kuning sudah usang, tapi karena dunia bertambah kompleks. Dan pesantren, sebagai organisme hidup, harus merespons kompleksitas itu, jawab kami.
Dalam tulisan-tulisan sebelumnya, kita banyak membahas DNA keilmuan pesantren, jaringan ekonomi, adaptasi, dan regenerasi. Kali ini saya ingin mengajak untuk merenungkan satu hal lagi: tentang transformasi literasi. Dari literasi teks ke literasi data. Dari kitab kuning ke data mining.
Ini bukan merubah, tapi perluasan dan penguatan. Ini juga bukan keluar dari tradisi, tapi memperkaya tradisi.
Dua Dunia, Satu Akar
Ada yang mengatakan kalau kitab kuning dan data mining, dua dunia yang berjauhan.Kitab kuning bicara tentang teks klasik, sanad keilmuan, warisan ulama salaf. Data mining bicara tentang algoritma, pola, prediksi masa depan.Tapi kalau direnungkan, keduanya punya akar yang sama yaitu membaca (إقرأ).
Kitab kuning mengajarkan membaca teks dengan segala kedalaman maknanya. Data mining mengajarkan membaca data dengan segala pola yang tersembunyi di dalamnya.
Jadi sebenarnya, kedua ilmu ini sama-sama alat baca. Kitab kuning membaca teks untuk memahami pesan Allah. Data mining membaca data untuk memahami pola ciptaan Allah.
Santri, AI, dan Masa Depan Literasi kita
Akhir tahun lalu, ada kabar menggembirakan dari Pasuruan. Pondok Pesantren Terpadu Queen Zam Zam menggelar pelatihan literasi digital dan pemanfaatan AI untuk ratusan santri. Bukan sekadar pelatihan biasa, tapi mereka benar-benar diajari membuat konten digital, menggunakan aplikasi AI, sampai etika bermedia sosial sesuai syariat Islam.Kabarnya, pelatihan ini hasil kolaborasi XL SMART, Daarut Tauhid Peduli Malang. Ratusan santri dari berbagai jenjang ikut ambil bagian. Mereka belajar menyusun prompt AI, membuat konten dakwah visual, dan tentu saja, etika di dunia maya.
Saya membayangkan, kelak santri-santri ini tidak hanya paham isi kitab, tapi juga mampu memproduksi konten dakwah yang menarik. Mereka tidak hanya jadi objek informasi, tapi juga produsen informasi yang bermanfaat.
Elipski: Perpustakaan Digital untuk Santri
Kabar baik juga datang dari Kementerian Agama. Mereka meluncurkan platform bernama Elipski, singkatan dari elektronik literasi pustaka keagamaan Islam. Isinya lebih dari 4.000 judul buku keagamaan, baik berbahasa Indonesia maupun Arab. Ada juga 352 naskah khotbah, fitur perhitungan waris, dan teknologi OCR.Yang lebih menggembirakan, platform ini sudah dikunjungi hampir 2 juta kali. Artinya, santri dan masyarakat haus akan literasi digital yang kredibel. Mereka butuh sumber bacaan yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan sekadar konten viral di media sosial.Seperti kata pakar literasi digital, Renee Hobbs, literasi digital bukan cuma belajar tentang informasi di dunia digital. Tapi juga belajar berpikir kritis, kreatif, inovatif, dan kolaboratif.
Pesantren Kauman: Menuju Kelas Dunia
Dari Sumatera Barat, kita dapat cerita lain. Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang menggelar forum diskusi internasionalisasi pada Oktober tahun lalu. Mereka mengundang para pakar dari berbagai perguruan tinggi untuk merumuskan strategi menjadikan pesantren bertaraf global.Dalam diskusi itu, lahirlah lima pilar utama: kurikulum akademik, sumber daya manusia, kemandirian ekonomi, diplomasi dan jejaring sosial, serta digitalisasi.
Yang menarik, para peserta diskusi juga mengingatkan warisan Buya Hamka. Menurut mereka, Buya Hamka telah meletakkan fondasi: pesantren harus terbuka pada ilmu dan teknologi modern, tanpa kehilangan identitas Islam.
Kabarnya, pesantren ini juga sudah menjalin kerja sama dengan SMK Ghafar Baba Malaysia. Langkah kecil, tapi sangat berarti untuk ekosistem pesantren.
Kemitraan Strategis: Memperkuat Ekosistem
Pesantren memang tidak bisa berjalan sendiri. Butuh kerja sama dengan berbagai pihak.PBNU dan Kementerian Kominfo, misalnya, sudah lama menjalin kemitraan untuk penguatan literasi digital di pesantren. Programnya mencakup pelatihan artificial intelligent, big data analytic, cloud computing, coding, dan cyber security. Semua ini diperuntukkan bagi santri dan tenaga pendidikan pesantren melalui program Digital Talent Scholarship.Program ini sudah berjalan di beberapa tempat. Pondok Pesantren As'adiyah di Bulukumba, misalnya, pernah mengirim 200 santrinya untuk ikut pelatihan. Begitu juga IAINU Tuban.
Inilah sinergi yang dihaarapkan terus berlanjut. Pemerintah menyediakan program dan anggaran. Pesantren menyediakan SDM dan nilai-nilai keislaman yang akan mewarnai setiap hasil teknologi yang dikembangkan.
Refleksi
Sampai di sini, kami semakin yakin. Kitab kuning dan data mining adalah dua sisi mata uang yang sama. Keduanya alat baca. Kitab kuning membaca teks untuk memahami pesan Allah. Data mining membaca data untuk memahami pola ciptaan Allah.Transformasi dari kitab kuning ke data mining bukan perpindahan, tapi perluasan. Bukan penggantian, tapi pengayaan.
Universitas Darunnajah, tempat kami mengandi juga ikut mengambil peran dalam transformasi ini. Kami membuka program studi Aktuaria, Rekayasa Perangkat Lunak, Sistem Teknologi Informasi, juga prodi-prodi bisnis seperti Administrasi Bisnis, Bisnis Digital, dan Kewirausahaan.Tujuan kami sederhana: menyiapkan generasi baru yang tidak hanya paham kitab kuning, tapi juga paham data mining. Yang tidak hanya bisa membaca teks, tapi juga membaca data. Yang tidak hanya menjadi pewaris tradisi, tapi juga pembaru peradaban.
KH Mahrus Amin, pendiri Darunnajah, punya falsafah pohon pisang. Tunas harus terus tumbuh, beradaptasi dengan tanah baru, tapi tetap membawa DNA yang sama.
Itulah yang saya harapkan dari literasi pesantren. Terus berkembang, menyerap nutrisi dari perkembangan zaman, tapi tetap berpijak pada nilai-nilai inti Ahlussunnah wal Jama'ah, nilai pesantren Nusantara.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Muhammad Irfanudin Kurniawan, Peneliti organisme pesantren. Penulis buku Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, dan Menjejaki Alam Filsafat.










