Mengapa Iran menerapkan Strategi Perang Atrisi melawan Israel-AS?
Ridwan al-MakassaryDosen Jurusan Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Direktur Center of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII
DI TENGAH kobaran api perang yang mengepul di langit Teheran hingga wilayah Teluk, terdapat sebuah ironi strategis yang monumental. Amerika Serikat dan Israel, dengan teknologi militer paling canggih di muka bumi, melancarkan pukulan “shock and awe” sebagai bagian dari "Operation Epic Fury" (di pihak AS) dan "Operation Lion's Roar"(di pihak Israel), yang menghancurkan.
Namun, pertanyaan yang mengusik mengapa lebih dari sepekan Iran masih bertahan, meskipun pemimpin tertingginya telah gugur? Tampaknya ini disebabkan Iran mempraktikkan strategi perang atrisi. Inilah yang menjadi topik yang akan diuraikan dalam tulisan ini.
Secara konseptual, strategi perang atrisi adalah strategi militer yang tidak bertujuan untuk mengalahkan lawan secara konvensional atau langsung menduduki wilayahnya. Sebaliknya, strategi ini dirancang untuk melemahkan lawan secara bertahap dengan cara menguras sumber daya, personel, dan kemauan politik mereka hingga titik kelelahan (exhaustion) sehingga tidak mampu melanjutkan pertempuran.
Pengalaman setengah tahun terakhir, sejak dari “Perang 12 Hari” Juni 2025 hingga gelombang serangan terbaru Februari 2026, telah membuktikan bahwa Iran tidak sedang bermain dalam aturan perang yang sama dengan lawan-lawannya. Iran telah menyempurnakan sebuah doktrin, selama empat dekade, yang tidak dirancang untuk memenangkan perang secara konvensional, tetapi untuk memastikan bahwa mereka tidak bisa dikalahkan.Terdapat perbedaan fundamental di mana Amerika dan Israel berperang melawan negara, sementara Iran berperang melalui jaringan. Teheran menarik pelajaran pahit dari invasi AS ke Irak tahun 2003 dan kegagalan di Afghanistan, yaitu melawan kekuatan konvensional superior secara frontal adalah bunuh diri militer. Maka lahirlah apa yang kini disebut sebagai “Decentralised Mosaic Defense (DMD)”, sebuah struktur komando yang sengaja dipecah menjadi 31 provinsi otonom, masing-masing dengan wewenang meluncurkan serangan rudal tanpa menunggu perintah pusat.
Ketika deru pesawat tempur siluman F-35 menghujani Teheran dengan rudal, mereka hanya mengenai dan merobohkan gedung, bukan sistem. Bahkan, ketika Khamenei gugur, estafet komando tidak pernah terputus, malahan, ia justru terdispersi ke seluruh penjuru negeri.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, dengan nada yang lebih mirip pernyataan perang daripada diplomasi, menyatakan bahwa Iran telah menghabiskan dua dekade untuk “mempelajari kekalahan militer AS di timur dan barat kami”. Kata kuncinya adalah pukullah musuh di mana mereka paling lemah, yaitu kesabaran politik dan biaya ekonomi.
Tewasnya Sang Rahbar Khamenei pada 28 Februari 2026, jika dibaca dengan kacamata Barat, adalah “decapitation strike” (pemenggalan kepala rezim) yang sukses. Itu berlaku di Venezuela, misalnya. Namun, di tanah Syiah, kematian memiliki makna yang berbeda. Ia bukan akhir, melainkan transformasi. Konsep syahadat dalam teologi Syiah mengubah kekalahan fisik menjadi kemenangan moral, dari terminal menjadi eternal (abadi).
Para pembuat kebijakan dan jenderal di Washington dan Tel Aviv tampaknya tidak menyadari bahwa mereka telah secara tidak sengaja mengaktifkan “martyrdom economy” Iran. Ketika Presiden Masoud Pezeshkian menyebut balas dendam sebagai “hak agama dan kewajiban nasional”, dia menggabungkan dua sumber legitimasi paling kuat, yaitu spiritual dan patriotik. Jenderal Qassem Soleimani yang terbunuh tahun 2020 kini telah menjadi simbol perlawanan lintas generasi. Khamenei sedang bertransformasi menjadi situs perlawanan. Setiap rudal yang diluncurkan, setiap pangkalan AS yang diserang, akan menjadi bagian dari warisan (legacy) mereka.
Dalam kerangka berpikir ini, perang tidak lagi diukur dari jumlah target yang dihancurkan, tetapi dari kapasitas untuk terus menimbulkan biaya perang. Inilah mengapa serangan balasan Iran tidak hanya menargetkan instalasi militer, tetapi juga menutup Selat Hormuz, yang dilalui 20 persen minyak dunia, dan juga dan menyerang infrastruktur sipil di Uni Emirat Arab, Bahrain, hingga Qatar.
Iran tampaknya berusaha menarik negara-negara Teluk ke dalam pusaran konflik sebagai tujuan utama. Karena jika harga minyak melonjak tinggi dan investor asing hengkang dari Dubai, tekanan domestik di negara-negara Arab akan memaksa mereka menekan Washington untuk menghentikan perang. Dengan ujaran lain, Iran menggunakan stabilitas kawasan sebagai sandera perang, yaitu sebuah strategi berisiko tinggi, namun terbukti efektif dalam perang asimetris.
Ali Larijani, kepala Dewan Keamanan Nasional Iran, dengan terus terang menyatakan bahwa “Iran, tidak seperti Amerika Serikat, telah mempersiapkan diri untuk perang Panjang”. Bandingkan dengan target Presiden Trump yang membayangkan operasi hanya akan berlangsung empat minggu. Di sinilah letak ketimpangan strategis, di mana satu pihak berpikir dalam hitungan minggu, pihak lain berpikir dalam hitungan tahun, bahkan dekade.
Data menunjukkan bahwa AS telah menggelontorkan dana miliaran dolar untuk setiap putaran konflik, sementara Iran hanya membutuhkan sebagian kecil dari biaya itu untuk mempertahankan tekanan melalui proksi-proksinya. Dalam ekonomi perang, ini adalah defisit yang tidak berkelanjutan bagi pihak penyerang.Iran mengajarkan kita bahwa kekuatan militer tidak selalu diukur dari canggihnya peralatan tempur, tetapi dari koherensi doktrin dan kesabaran strategis. Dengan mengubah medan perang menjadi perang proksi yang tersebar dan perang atrisi yang melelahkan, Iran telah berhasil menciptakan apa yang oleh para analis disebut sebagai “deterrence by punishment”, yaitumembuat biaya agresi menjadi jauh lebih tinggi daripada manfaatnya.
Meskipun demikian, ada juga alarm bahaya untuk Iran, yaitu dengan mengorbankan kedaulatan negara-negara Arab dan menyeret kawasan tersebut ke dalam konflik sektarian, Iran juga mempertaruhkan isolasi jangka panjang. Serangan terhadap fasilitas sipil di negara tetangga hanya akan mengukuhkan narasi bahwa Teheran lebih peduli pada ekspansi pengaruh daripada solidaritas kawasan. Dalam jangka panjang, ini bisa menjadi bumerang yang mengikis legitimasi moral perjuangan mereka di mata dunia Islam. Tapi, bagi Iran tampaknya hal tersebut bagian dari pertahanan dan pembelaan diri.
Amerika dan Israel mungkin memenangkan banyak pertempuran, tetapi belum memenangkan perang. Iran, hemat penulis, dengan doktrin atrisinya, sedang berusaha memenangkan perang kelelahan. Dan dalam perang seperti ini, pemenang sesungguhnya adalah mereka yang paling mampu bertahan, bukan mereka yang paling keras menggempur.
Menteri Pertahanan AS mungkin akan melaporkan ribuan target berhasil dihancurkan dan superioritas udara telah tercapai. Namun ketika debu pertempuran mereda, pertanyaan yang tersisa adalah siapa yang akan tertawa di akhir?
Pungkasannya, sejarah mengajarkan kita bahwa imperium besar tidak runtuh karena dikalahkan dalam satu pertempuran. Mereka runtuh karena perlahan-lahan kehabisan darah, terkuras habis oleh musuh-musuh kecil yang tak pernah lelah menggigit.
Iran mungkin tidak memiliki kekuatan untuk mengalahkan AS-Israel secara militer. Namun, mereka mungkin memiliki kesabaran untuk melihat kedua kekuatan itu saling menghancurkan diri sendiri dalam labirin konflik yang tak tampak jalan keluar.










