Trump Mundur Soal Greenland, Batalkan Ancaman Tarif Usai Kesepakatan NATO
DAVOS - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump secara mengejutkan membatalkan ancaman pengenaan tarif terhadap delapan negara Eropa, setelah NATO menyepakati kerangka kerja sama masa depan terkait keamanan kawasan Arktik. Keputusan ini menandai perubahan sikap drastis Trump terkait ambisinya terhadap Greenland.
Dalam unggahan di media sosialnya seperti dilansir dari AP News, Kamis (22/1/2026), Trump menyatakan telah mencapai kesepakatan awal dengan pimpinan NATO mengenai “kerangka kesepakatan masa depan” yang mencakup isu keamanan Arktik. Kesepakatan tersebut dinilai berpotensi meredakan ketegangan geopolitik yang sebelumnya meningkat akibat pernyataan keras Trump soal Greenland.
Trump juga mengungkapkan, bahwa diskusi lanjutan mengenai Greenland tengah berlangsung, termasuk keterkaitannya dengan program pertahanan rudal Golden Dome, sistem pertahanan berlapis senilai sekitar 175 miliar dolar AS yang akan menempatkan senjata Amerika Serikat di luar angkasa.
Meski tidak merinci isi kesepakatan, sejumlah pejabat Eropa menyebut salah satu opsi kompromi yang dibahas adalah kerja sama Denmark, NATO, dan Amerika Serikat untuk membangun atau memperluas pangkalan militer AS di Greenland. Namun, belum ada kepastian apakah rencana tersebut masuk dalam kerangka resmi yang diumumkan Trump.
Ancaman Tarif yang Ditarik Kembali
Trump sebelumnya mengancam akan memberlakukan tarif impor terhadap Denmark dan tujuh negara sekutu NATO lainnya jika tidak bersedia bernegosiasi terkait pengalihan Greenland. Tarif tersebut direncanakan mulai 10 persen bulan depan dan meningkat hingga 25 persen pada Juni.
Namun, setelah pidatonya di World Economic Forum (WEF) Davos, Trump membatalkan ancaman tersebut. Dalam pidatonya, ia sempat menyebut Greenland sebagai wilayah yang penting bagi keamanan global dan menyinggung peran besar AS dalam melindungi Eropa sejak Perang Dunia II.
Pernyataan Trump memicu kekhawatiran di kalangan negara-negara NATO, mengingat ia juga mempertanyakan komitmen aliansi tersebut dalam membela Amerika Serikat jika terjadi konflik.
Menanggapi hal itu, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menegaskan bahwa NATO akan membela AS jika diserang. Tak lama setelah pernyataan tersebut, Trump mengumumkan pembatalan tarif.
Respons Denmark dan Greenland
Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Lokke Rasmussen menyambut baik langkah Trump tersebut.
“Kami menghargai keputusan Presiden Trump untuk tidak mengambil Greenland dengan paksa dan menghentikan perang dagang dengan Eropa,” ujar Rasmussen dalam pernyataan resminya.
Ia menegaskan Denmark siap berdialog terkait kekhawatiran keamanan AS di Arktik, namun kedaulatan Denmark atas Greenland tetap menjadi garis merah yang tidak bisa dilanggar.
Sementara itu, pemerintah Greenland mengimbau warganya untuk bersiap menghadapi potensi krisis. Panduan darurat diterbitkan, meminta warga menyiapkan persediaan makanan, air, dan bahan bakar untuk bertahan setidaknya lima hari.
Sejumlah warga Nuuk mengaku mulai menimbun kebutuhan dasar. Meski sebagian menilai retorika Trump sebagai ancaman politik semata, kekhawatiran tetap dirasakan di masyarakat.
Pasar Merespons Positif
Pasar keuangan global yang sebelumnya bergejolak akibat ancaman tarif Trump mulai pulih setelah pengumuman pembatalan tersebut. Sejumlah pejabat AS juga mengaku lega, mengingat sikap agresif Trump dikhawatirkan dapat merusak hubungan strategis AS dengan sekutu-sekutu Eropa.
Meski tekanan mereda, dinamika geopolitik di kawasan Arktik dinilai masih akan menjadi isu strategis utama, terutama di tengah meningkatnya persaingan pengaruh antara Amerika Serikat, Rusia, dan China.










