Dubes Iran Ungkap Intelijen Asing Jadi Dalang Kerusuhan
JAKARTA – Duta Besar (Dubes) Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, mengungkapkan hal yang membuat eskalasi keamanan di Iran meningkat belakangan ini. Dia menyebut ada dalang intelijen asing yang telah menciptakan kerusuhan di balik demonstrasi rakyat.
1. Rangkaian Kerusuhan
Boroujerdi membagi empat tahap atau rangkaian yang mulanya demonstrasi berjalan damai hingga timbulnya kerusuhan. Tahap pertama dimulai pada 28 hingga 31 Desember. Saat itu pelaku usaha di Grand Bazaar Teheran melakukan unjuk rasa profesi. Dia menyebut aksi ini berlangsung damai dan tertib.
"Tentu saja berdasarkan undang-undang Republik Islam Iran sebagai sebuah negara yang demokratis, kami memberikan ruang yang jelas dan juga menghormati keinginan masyarakat untuk melakukan unjuk rasa," katanya saat memberikan keterangan ke awak media di kediamannya, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (22/1/2026).
Situasi berubah pada tahap kedua yang berlangsung dari 1 hingga 7 Januari 2026. Dia menyatakan, dalam tahap ini, ada pihak-pihak tertentu yang berupaya membajak aksi damai masyarakat berubah menjadi kerusuhan.
"Sampai titik ini, aparat kepolisian dan keamanan di Iran tidak bersenjata dan hadir di lapangan tanpa senjata. Di titik ini kami menyaksikan jumlah korban paling banyak berasal dari aparat kepolisian dan keamanan, dikarenakan mereka menghadapi aksi unjuk rasa yang mulai melakukan kekerasan," ujarnya.
"Ketika ingin dihadang dan dihentikan oleh aparat, mereka yang membawa senjata atau melakukan kekerasan melawan pihak kepolisian yang sama sekali tidak membawa senjata," tuturnya.
Memasuki tahap ketiga, pemerintah Iran mengklaim telah mengantongi bukti adanya arahan dari luar negeri yang bertujuan menciptakan kekacauan.
"Dengan tujuan Iran bisa digambarkan dan diposisikan di posisi pelanggar hak asasi manusia. Agar setelahnya ini menjadi sebuah alasan yang legitimate untuk Iran diserang oleh pihak luar negeri," katanya.
2. Intelijen Asing
Berdasarkan hasil penyadapan komunikasi, dia menuding instruksi itu datang dari badan intelijen asing, termasuk Mossad (Israel) dan CIA (Amerika Serikat) yang menginstruksikan oknum tertentu untuk menyerang aparat keamanan hingga warga sipil.
"Ini merupakan instruksi dan arahan-arahan yang langsung datang dari badan-badan intelijen luar negeri, antara lain Mossad dan CIA," tudingya.
Menurutnya, hal ini diperkuat dari kesaksian seorang demonstran yang terluka. Demonstran itu mengaku ditikam oleh oknum yang mengajaknya turun ke jalan. Karena itu, dugaan adanya upaya sistematis untuk memperbanyak jumlah korban cedera semakin kuat.
Pada tahap terakhir, pemerintah Iran mengambil langkah tegas untuk menghentikan koordinasi sel-sel kerusuhan yang dikendalikan dari luar negeri melalui media sosial dengan membatasi akses internet secara nasional.
Selain itu, Iran menetapkan kebijakan keamanan baru. Aparat kepolisian yang bertugas kini dibekali persenjataan untuk menghadapi perusuh bersenjata.
Rahasia Ketangguhan Tandang Cremonese, Emil Audero Ungkap Peran Vital Mentalitas dan Taktik Pelatih
"Mereka diberikan izin untuk melakukan penembakan terhadap oknum aksi unjuk rasa yang tidak damai yang membawa senjata, melakukan penyerangan atau menembaki masyarakat. Instruksinya adalah melakukan penembakan dari bagian badan, bagian bawah dari badan, tidak ke bagian atas agar tidak menciptakan korban," tuturnya.




