Menkes: Asap Rokok Bapak Jadi Biang Kerok Anak Kurang Gizi!
JAKARTA – Kebiasaan merokok ternyata tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga memberi tekanan serius pada kondisi ekonomi keluarga dan tumbuh kembang anak. Di tengah naiknya harga kebutuhan pokok dan tantangan ekonomi rumah tangga, pengeluaran untuk rokok dinilai menjadi salah satu faktor tersembunyi yang berkontribusi pada masalah gizi anak, termasuk stunting dan gizi buruk.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin secara terbuka menyoroti kebiasaan merokok para kepala keluarga, khususnya para ayah, yang dinilai dapat menggerus anggaran rumah tangga. Menurutnya, uang yang dihabiskan untuk rokok seharusnya bisa dialihkan untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga, terutama anak-anak yang sedang berada di masa pertumbuhan.
Budi bahkan secara tegas mendorong para ibu agar lebih berani menegur dan mengingatkan suami yang masih gemar merokok. Ia menilai, peran ibu sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekonomi keluarga sekaligus kesehatan anak.
“Ibu-ibu, saya dukung untuk omelin suaminya yang masih bandel merokok. Satu bungkus rokok itu harganya sekitar Rp30.000. Dengan uang segitu, ibu bisa beli satu bungkus telur ayam yang cukup untuk makan seluruh keluarga,” kata Budi dalam sebuah video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, dikutip Selasa (3/2/2026).
Menurut Menkes, alasan ekonomi sering kali digunakan sebagai pembenaran ketika anak mengalami kurang gizi atau bahkan stunting. Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, kebiasaan merokok justru menjadi salah satu penyebab utama kebocoran anggaran rumah tangga.
“Saya sering dengar alasan ekonomi jadi penyebab anak kurang gizi, bahkan stunting. Tapi kalau dilihat, asap yang keluar dari mulut bapaknya itu sebenarnya jadi faktor utama,” ungkap Budi.
Ia menjelaskan, konsumsi rokok yang cukup tinggi setiap hari membuat pengeluaran keluarga membengkak tanpa disadari. Uang yang habis menjadi asap dalam sehari seharusnya bisa dialokasikan untuk sumber protein hewani seperti telur, yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan otak dan fisik anak.
“Kalau satu bungkus rokok isinya penyakit semua, itu uangnya habis percuma. Padahal dengan Rp30.000, ibu bisa beli sekitar 16 butir telur atau satu kilogram. Telur itu bisa jadi lauk lebih dari satu hari dan sangat baik untuk pertumbuhan anak,” jelasnya.
Budi juga mengingatkan bahaya rokok tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari paparan asap rokok di dalam rumah. Anak-anak yang terpapar asap rokok berisiko mengalami gangguan pernapasan, infeksi saluran napas, hingga penurunan daya tahan tubuh, yang pada akhirnya memperparah kondisi gizi mereka.
“Hari ini ibu harus mulai lebih tegas. Tagih jatah rokok bapaknya, tukar jadi jatah gizi anak-anak. Ini bukan soal melarang semata, tapi soal masa depan anak,” tegas Budi.
Pernyataan Menkes ini diperkuat oleh berbagai data dan penelitian. Berdasarkan laporan BMJ Tobacco Control tahun 2025, rumah tangga dengan perokok di Indonesia menghabiskan rata-rata 10,7 hingga 11 persen dari total anggaran bulanan mereka untuk rokok. Angka ini tergolong besar, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah.
Ironisnya, di banyak keluarga miskin, belanja rokok bahkan tercatat dua kali lipat lebih besar dibandingkan belanja telur atau daging. Kondisi ini secara langsung berkontribusi pada tingginya risiko stunting dan gizi buruk pada anak-anak.
Sementara itu, Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives mencatat bahwa kebiasaan merokok dapat meningkatkan angka kemiskinan nasional sebesar 2,84 hingga 3,26 poin persentase. Artinya, sekitar 7,5 hingga 8,8 juta orang berpotensi jatuh ke bawah garis kemiskinan akibat pengeluaran untuk rokok.
Di sisi lain, Menkes juga mengakui bahwa bagi sebagian masyarakat, rokok kerap dijadikan pelarian dari tekanan hidup dan cara cepat untuk mendapatkan rasa tenang atau dopamin. Kandungan nikotin dan sensasi hisapan tembakau memang memberikan efek relaksasi sesaat, terutama bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah yang menghadapi tekanan sosial dan finansial.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa kebiasaan tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena dampaknya jauh lebih besar dibandingkan manfaat sesaat yang dirasakan.
“Jangan sampai rokok justru menjadi pemicu tambahan runtuhnya ekonomi keluarga dan merusak kesehatan anak-anak kita,” pungkasnya.
Meski demikian, Menkes juga mengingatkan pentingnya melihat persoalan rokok secara objektif dan menyeluruh. Ia menilai, pendekatan edukatif dan perubahan pola pikir masyarakat menjadi kunci, mengingat budaya merokok telah lama mengakar di Indonesia.
Dengan kesadaran bersama, diharapkan pengeluaran untuk rokok bisa dialihkan ke kebutuhan yang lebih produktif, khususnya pemenuhan gizi anak, demi menciptakan generasi yang lebih sehat dan berkualitas di masa depan.










