Hampir 200 Orang Tewas dalam Pembantaian Massal di Nigeria
JAKARTA – Kelompok bersenjata telah menewaskan setidaknya 191 orang dalam serangan terpisah di desa-desa di Nigeria tengah dan utara, di tengah meningkatnya krisis keamanan yang telah lama melanda negara terpadat di Afrika ini.
Kelompok tersebut menyerbu desa Woro dan Nuku di negara bagian Kwara pada hari Selasa, menewaskan lebih dari 170 orang setelah membakar rumah dan toko, menurut pejabat setempat serta organisasi hak asasi manusia Amnesty International.
Dalam sebuah pernyataan pada Rabu (5/2/2026), Amnesty mengatakan bahwa para korban diikat sebelum dibunuh dan ditembak, dengan beberapa di antaranya dibakar hidup-hidup. Organisasi tersebut menambahkan bahwa penduduk setempat masih mencari jenazah.
Disebutkan pula bahwa “beberapa orang juga diculik” dalam serangan tersebut, yang dilakukan dalam “ketiadaan yang mengejutkan akan bentuk keamanan apa pun untuk perlindungan jiwa.”
Setidaknya 21 orang tewas dalam insiden terpisah di negara bagian Katsina ketika orang-orang bersenjata menyerbu desa Doma, mendatangi rumah demi rumah dan menembak penduduk, kata pihak berwenang setempat. Sebelumnya, masyarakat tersebut telah mencapai kesepakatan damai dengan kelompok-kelompok bersenjata yang beroperasi di wilayah itu.
Presiden Nigeria Bola Tinubu mengutuk serangan “pengecut dan biadab” tersebut, yang ia tuduhkan kepada kelompok jihadis Boko Haram. Ia mengatakan para militan membunuh warga “yang menolak upaya indoktrinasi mereka yang menjijikkan, dan memilih untuk mempraktikkan Islam yang tidak ekstrem maupun penuh kekerasan.”
Tinubu menyatakan telah memerintahkan satu batalion tentara untuk dikerahkan ke Kwara guna memimpin operasi melawan “teroris biadab”, demikian diwartakan RT.
Nigeria telah menghadapi ketidakamanan yang terus-menerus selama bertahun-tahun, yang dipicu oleh pemberontak jihadis serta geng kriminal yang dikenal secara lokal sebagai bandit.
Pemerintah Tinubu berada di bawah tekanan untuk mengatasi krisis tersebut menyusul ancaman dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump atas dugaan kegagalan Abuja menghentikan apa yang ia sebut sebagai “genosida” terhadap umat Kristen.
Pada Selasa (4/2/2026), Kepala Komando Afrika AS Jenderal Dagvin R. M. Anderson mengatakan bahwa “tim kecil” pasukan Amerika telah dikerahkan ke Nigeria untuk mendukung upaya melawan militan ISIS. Pada 25 Desember, Washington melakukan serangan udara terhadap target teroris di barat laut Nigeria sebagai bagian dari apa yang digambarkan otoritas Nigeria sebagai perjanjian keamanan bilateral baru.



