RDP Panja AMDK Ungkap Potensi Bahaya Galon Guna Ulang, DPR: Kayak Minum Kimia
JAKARTA – Galon guna ulang yang melebihi batas usia dinilai sangat berbahaya bagi kesehatan. Permasalahan tersebut menjadi sorotan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Panitia Kerja (Panja) Industri Air Minum Komisi VII DPR RI bersama Kementerian Perindustrian.
Anggota Komisi VII, Novita Hardini, mengungkap temuan bahwa 57 persen galon guna ulang di Jabodetabek telah melampaui batas usia pakai. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius akan risiko paparan bahan kimia berbahaya ketika masyarakat mengonsumsi air minum dalam galon yang sudah tua.
“Ada temuan 57 persen di Jabodetabek galon-galon yang diguna ulang itu sudah melebihi batas usia pakai, saya jadi takut loh minum air putih ini. Kita semua itu jadi kayak minum kimia,” katanya dalam rapat yang berlangsung pada Rabu (4/2/2026), di Gedung DPR.
Kekhawatiran anggota Panja DPR tersebut bukan tanpa alasan. Ahli polimer dari Universitas Indonesia, Profesor Mochamad Chalid, menjelaskan bahwa galon guna ulang berbahan plastik polikarbonat memiliki batas usia pakai yang harus diperhatikan.
Menurutnya, galon guna ulang, sebaiknya hanya digunakan maksimal 40 kali pengisian ulang atau setara satu tahun. “Lebih dari itu, risiko migrasi BPA akan makin tinggi,” tutur Prof. Chalid.
Seperti diketahui, BPA adalah bahan kimia pembuat plastik polikarbonat yang mampu meniru hormon, sehingga berpotensi mengganggu sistem hormon manusia. Berbagai riset ilmiah telah mengungkapkan, paparan BPA dalam jangka waktu lama bisa menimbulkan risiko kesehatan serius, antara lain gangguan kesuburan dan reproduksi, diabetes tipe 2, obesitas, hingga peningkatan risiko kanker payudara, prostat, dan usus besar.
Pada Oktober 2025, Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) telah mengungkap hasil investigasi dari 60 toko kelontong di Jabodetabek. Selain temuan 57 persen galon guna ulang berusia lebih dari 2 tahun, KKI juga menemukan kondisi 8 dari 10 galon guna ulang yang beredar sudah buram dan kusam. Ini tanda terjadinya penurunan kualitas kemasan.
Kualitas Air Minum Menurun
Novita juga menyoroti persoalan galon guna ulang yang kian diperparah oleh lemahnya pengawasan pada tahap distribusi. Kualitas air yang semula memenuhi standar di pabrik seringkali merosot tajam ketika sampai di tingkat agen, penjual eceran, dan konsumen.
Ia bahkan membeberkan praktik di lapangan, di mana banyak galon dijemur terlalu lama di bawah terik sinar matahari. Menurutnya, paparan panas matahari tersebut akan memicu perpindahan bahan kimia berbahaya dari galon ke dalam air, sehingga produk yang seharusnya menyehatkan justru berubah menjadi ancaman bagi konsumen.
“Kualitas air itu sering menurun bukan di pabriknya tapi karena galon dijemur terlalu lama di bawah matahari karena stok di agen-agennya, karena ada migrasi kimia dari plastik ke air,” katanya.









