Eks Dubes Tunisia Nilai AS dan Israel Kini Mencoba Hentikan Perang Lawan Iran
JAKARTA - Mantan Duta Besar (Dubes) RI untuk Tunisia periode 2017–2021, Ikrar Nusa Bhakti menilai Amerika Serikat (AS) dan Israel saat ini berupaya menghentikan perang dengan Iran. Diketahui, serangan militer dari dua negara tersebut telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ali Khamenei.
"Karena kita tahu bahwa Amerika Serikat dan Israel itu memang mencoba agar perang ini berhenti," kata Ikrar dalam program Rakyat Bersuara di iNews TV, Selasa (10/3/2026).
Pandangan itu ia sampaikan dengan melihat fakta bahwa serangan balik Iran ke Israel dan beberapa fasilitas militer AS di Timur Tengah cukup mengejutkan kedua negara tersebut. Padahal, menurutnya, serangan balasan itu belum sepenuhnya mengerahkan seluruh kekuatan dan persenjataan yang dimiliki Iran.
"Kenapa? Karena Anda tahu ya, serangan Iran itu tidak main-main. Waktu serangan kemarin, mereka masih punya persediaan yang cukup banyak yang belum dikeluarkan," tuturnya.
Ia menambahkan, alasan AS dan Israel ingin menghentikan konflik juga karena Iran mendapatkan dukungan baru dari China.
Pakar Komunikasi Politik: Pertemuan Prabowo dengan Tokoh Kritis Bisa Jadi Anugerah atau Musibah
"Republik Rakyat China itu berupaya membantu Iran, bukan hanya dalam persoalan siber, tetapi juga bagaimana mengacaukan sinyal-sinyal yang ada di Israel ataupun yang dimiliki oleh Amerika Serikat di daerah tersebut," jelasnya.
Menurutnya, jika perang ini berlanjut maka dapat membahayakan posisi politik Donald Trump sebagai Presiden AS. Selain tertekan oleh biaya perang, situasi ini juga dinilai bisa berdampak pada posisinya menjelang pemilu sela yang berpotensi dimanfaatkan Partai Demokrat untuk meraih kemenangan.
"Karena memang dia sedang tertekan. Biaya perang itu bukan main. Kalau kemudian perang ini terus berlanjut, bukan mustahil tekanan terhadap Donald Trump akan makin meningkat," ucapnya.
"Nanti kan bulan November ada pemilu sela, dan bukan mustahil calon-calon dari Partai Demokrat bisa memenangi pemilu sela tersebut," sambungnya.
Ikrar menilai, ketika AS dan Israel memulai agresi militer lebih dulu, keduanya tidak menduga bahwa serangan balasan Iran akan jauh lebih kuat dari yang mereka perkirakan.










