Sistem Pertahanan Udara China Disorot Usai Konflik Venezuela dan Iran
JAKARTA – Sistem pertahanan udara HQ-9B China menjadi sorotan setelah dinilai gagal dalam sejumlah konflik yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Selama bertahun-tahun, rudal HQ-9B disebut sebagai salah satu sistem pertahanan udara terbaik, tetapi kegagalannya dalam konflik di Pakistan, Venezuela, dan baru-baru ini Iran membuat penilaian tersebut mulai diragukan.
Di Teheran, Amerika Serikat (AS) dan Israel hanya membutuhkan waktu sehari untuk melancarkan serangan udara dan mengeliminasi kepemimpinan Iran. Sementara di Venezuela, pasukan AS dengan mudah memasuki wilayah tersebut dan menculik Presiden Nicolas Maduro tanpa jatuhnya korban jiwa.
Sebagai perbandingan, Presiden George H.W. Bush membutuhkan beberapa hari untuk menangkap Jenderal Manuel Noriega di Panama; dan hampir 10 tahun untuk melacak serta mengeliminasi Osama Bin Laden. Dalam hal ini, Operasi Absolute Resolve di Venezuela dan Epic Fury di Iran memperlihatkan standar baru operasi militer AS.
Di balik kedua operasi ini, sistem rudal HQ-9B dan radar JY-27A milik China, yang diyakini digunakan Venezuela dan Iran, dinilai memperlihatkan kinerja buruk. Sistem pertahanan udara itu tampak buta, tak memberikan peringatan apa pun kepada Teheran dan Caracas tentang serangan yang datang.
Dilansir The Hill, Kamis (19/3/2026), HQ-9B, juga dikenal sebagai Red Flag 9, adalah tiruan dari rudal Patriot AS dan S-300 Rusia. Secara teori, rudal ini memiliki sistem radar terintegrasi untuk melacak dan menyerang banyak target secara bersamaan. Namun dalam praktiknya, rudal ini menunjukkan hal sebaliknya.
Sejak Mei tahun lalu, kekhawatiran serius telah muncul tentang ketidakmampuan HQ-9B. Dalam Operasi Sindoor India melawan Pakistan, rudal-rudal China dikalahkan telak selama empat hari berturut-turut. Rudal-rudal tersebut tidak mampu mempertahankan, menghancurkan, atau melacak apa pun.
Radar JY-27 China adalah sistem yang mampu mengidentifikasi dan memindai target antara 280 hingga 390 kilometer jauhnya. Sistem ini khusus untuk deteksi dini jet tempur supersonik F-22 dan F-35 yang cepat. Namun dalam pertempuran nyata, ketika Maduro ditangkap di Venezuela, radar China dilaporkan gagal mendeteksi satu pun dari 150 pesawat yang menembus wilayah udara Venezuela.
Tak hanya China, Operasi Absolute Resolve juga menyoroti sistem buatan Rusia. Venezuela telah menginvestasikan lebih dari USD 2 miliar untuk rudal S-300. Meskipun memiliki kekuatan besar, rudal-rudal tersebut tidak berdaya menghadapi pesawat tempur, pembom, dan pesawat perang elektronik Amerika Serikat.
Selama Operasi Epic Fury di Iran, sistem pertahanan rudal HQ-9B China sekali lagi dikalahkan dengan serangan mematikan terhadap Ayatollah Khamenei dan sekitar 49 perwira militer berpangkat tinggi.
Analis AS menyebut ini sebagai bukti propaganda China yang efektif, tetapi tidak dengan teknologi militernya. Beberapa tahun lalu, negara-negara seperti Mesir, Azerbaijan, Pakistan, dan Iran menghabiskan miliaran dolar untuk mengadopsi sistem pertahanan udara China ini.
Peristiwa di Pakistan, Venezuela, dan Iran juga memberi harapan bagi Taiwan, dengan pukulan terhadap kredibilitas China. Perlombaan senjatanya tidak lagi sekuat dulu. Meskipun Beijing masih merupakan kekuatan nuklir, teknologi tempur dan radarnya kini dinilai tidak dapat diandalkan dan rentan jika dibandingkan dengan teknologi AS.
Di Amerika Latin, negara-negara seperti Peru, Argentina, dan Uruguay telah memilih teknologi militer AS. Argentina dan Peru memilih pesawat tempur supersonik F-16 daripada JF-17 milik China. Uruguay telah menggunakan kendaraan lapis baja Oshkosh 4x4 tanpa melibatkan teknologi China.










