Gara-Gara Perang, BI Sulit Turunkan Suku Bunga 4,75
JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyatakan peluang pemangkasan suku bunga acuan (BI Rate) semakin menipis akibat ketidakpastian global. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran menjadi faktor utama yang mendorong bank sentral fokus pada penguatan stabilitas.
Sepanjang 2025, BI tercatat telah menurunkan BI Rate sebanyak tiga kali hingga mencapai level 4,75 persen sebagai langkah ekspansif untuk mendukung perekonomian.
“Mengenai suku bunga, BI Rate kami pertahankan di 4,75 persen. Namun ke depan, ruang penurunannya kemungkinan semakin tertutup, dan kami harus menyikapinya dengan menjaga stabilitas,” ujar Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Rabu (8/4/2026).
Perry menjelaskan bahwa ketegangan di Timur Tengah telah memicu kenaikan imbal hasil (yield) surat berharga pemerintah Amerika Serikat (US Treasury). Hal ini terjadi karena membengkaknya defisit fiskal AS yang dialokasikan untuk membiayai kebutuhan militer dan anggaran perang.
Kenaikan yield di pasar global secara otomatis memberikan tekanan besar pada pasar keuangan domestik dan nilai tukar Rupiah.
“Adanya perang di Timur Tengah menyebabkan harga minyak global dan yield meningkat. Hal ini dipicu oleh kenaikan defisit fiskal Amerika Serikat, termasuk untuk anggaran perang, dan akan berdampak ke Indonesia,” tegas Perry.
Selain lonjakan harga minyak, dampak sistemik lainnya adalah terjadinya pelarian modal asing (capital outflow). Para investor cenderung memindahkan dana mereka dari negara berkembang (emerging markets) menuju pasar keuangan global yang dianggap lebih aman (safe haven).
Kondisi ini diperparah dengan proyeksi ekonomi dunia tahun 2026 yang dikoreksi turun menjadi 3,1 persen dari sebelumnya 3,2 persen. Di sisi lain, inflasi global diperkirakan meningkat dari 3,8 persen menjadi 4,1 persen, yang berpotensi membatasi langkah bank sentral dunia, termasuk The Fed, dalam menurunkan suku bunga mereka.
“Secara umum, kebijakan moneter global itu akomodatif, tapi tingkat kecepatan penurunan suku bunganya lebih lambat,” imbuh Perry.










