Wabah Ebola RD Kongo Tembus 2.000 Kasus, Tewaskan 754 Korban
JAKARTA – Jumlah kasus Ebola yang terkonfirmasi di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) telah mencapai 2.011 dengan 754 kematian, menurut data pemerintah. Angka tersebut menjadikan wabah ini sebagai wabah Ebola terbesar ketiga dan paling cepat berkembang yang pernah tercatat, menurut organisasi amal medis global Medecins Sans Frontieres (MSF).
Penanganan wabah ini juga terhalang oleh berbagai kendala, termasuk pemogokan oleh para profesional kesehatan dan tenaga medis. Terbaru, para pekerja kesehatan di Rumah Sakit Umum Bunia di pusat wabah melakukan pemogokan dan membarikade pintu masuk rumah sakit karena belum dibayar, meskipun harus bekerja dalam kondisi sulit.
Penyakit virus ini sering kali berakibat fatal dan menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh dari orang atau hewan yang terinfeksi. Penyakit ini menyebabkan gejala termasuk demam tinggi, muntah, serta perdarahan internal dan eksternal.
Ricky Nelson Targetkan Persis Solo Promosi ke Super League 2027-2028 Usai Tinggalkan Persija
Wabah yang dimulai pada 15 Mei ini disebabkan oleh virus Bundibugyo yang langka. Kurangnya vaksin atau pengobatan yang disetujui untuk virus ini—tidak seperti virus Zaire yang lebih umum—telah meningkatkan tantangan yang dihadapi oleh petugas kesehatan.
MSF menyerukan perluasan segera terhadap langkah-langkah penahanan dan perawatan.
"Setiap keterlambatan merenggut nyawa. Kita masih mengejar wabah alih-alih mengantisipasinya," kata Trish Newport, manajer program darurat MSF, sebagaimana dilansir Sky News.
Organisasi amal tersebut juga memperingatkan tentang penyebaran geografis wabah. Mereka menyatakan bahwa komunitas di luar daerah perkotaan menghadapi dukungan yang tidak memadai, dengan akses terbatas ke perawatan medis serta sistem pemantauan yang kewalahan.
Pekan lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan wabah tersebut masih dalam fase ekspansi, sebagian didorong oleh pergerakan penduduk dan keterlambatan dalam pengobatan.










