Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 160 Orang, Desa hingga Pembangkit Listrik Hancur

Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 160 Orang, Desa hingga Pembangkit Listrik Hancur

Terkini | okezone | Kamis, 27 Agustus 2026 - 10:24
share

JAKARTA - Sedikitnya 160 orang tewas dan ratusan lainnya masih hilang setelah banjir bandang menerjang wilayah pegunungan Nepal dan Tibet. Bencana tersebut menyapu desa, merusak jalan dan jembatan, hingga menghantam sejumlah proyek pembangkit listrik di kawasan dekat perbatasan Nepal-Tiongkok.

Dilansir dari Aljazeera, Kamis (27/8/2026). Di Nepal, polisi melaporkan telah menemukan 157 jenazah hingga Rabu malam. Petugas masih melakukan pencarian dan evakuasi warga dari sejumlah wilayah yang dinilai berisiko.

Juru bicara Kepolisian Nepal, Abi Narayan Kafle mengatakan, 28 personel kepolisian juga dilaporkan hilang akibat bencana tersebut.

Selain warga Nepal, sejumlah warga negara asing turut dilaporkan hilang. Mereka antara lain berasal dari India, Australia, Inggris Raya, Malaysia, Belanda, Portugal, Afrika Selatan, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Dari jumlah tersebut, 142 orang merupakan warga negara India.

Sementara itu, di sisi perbatasan Tiongkok, otoritas melaporkan sedikitnya tiga orang tewas dan 265 lainnya masih hilang di wilayah Gyirong, Tibet.

Stasiun televisi pemerintah China Central Television (CCTV) menyebut jumlah pasti korban masih dalam proses verifikasi.

Tanah longsor dilaporkan menghantam Pelabuhan Gyirong dan memutus akses jalan, komunikasi, serta aliran listrik di wilayah Shigatse. Kantor berita resmi Xinhua melaporkan kondisi tersebut terjadi setelah longsor lumpur menerjang kawasan perbatasan Nepal-Tiongkok.

Presiden Tiongkok Xi Jinping memerintahkan upaya maksimal untuk mencari warga yang masih hilang. Dia juga meminta penguatan sistem pemantauan dan peringatan dini guna mengantisipasi bencana susulan.

 

Warga Diminta Mengungsi ke Tempat Lebih Tinggi

Di Nepal, Perdana Menteri Balendra Shah meminta masyarakat tetap tenang dan bersatu menghadapi bencana.

“Mohon bersabar. Pemerintah bertanggung jawab penuh atas penyelamatan, perawatan, makanan, dan tempat tinggal Anda,” kata Shah dalam pernyataan yang dibagikan melalui media sosial.

Upaya evakuasi menghadapi kendala. Para pejabat mengatakan ketinggian air masih terlalu tinggi untuk memungkinkan helikopter mendarat di sejumlah lokasi terdampak, termasuk Syapru Besi dan Timure di Distrik Rasuwa.

Administrator Distrik Rasuwa Narendra Pariyar meminta warga yang tinggal di sepanjang Sungai Bhote Koshi segera mencari tempat yang lebih tinggi.

Imbauan itu disampaikan setelah laporan menyebut sejumlah desa serta lokasi proyek infrastruktur di sekitar sungai tersapu banjir.

Pemerintah Nepal juga telah meminta bantuan India dan China untuk mendukung proses pencarian dan penyelamatan korban.

 

Air Berlumpur Terjang Lembah Pegunungan

Rekaman yang dibagikan Kepolisian Nepal memperlihatkan derasnya aliran air berlumpur yang menerjang lembah-lembah pegunungan.

Sejumlah warga mengaku terkejut karena banjir bandang datang tanpa didahului hujan deras dalam waktu lama.

Kosh Raj Koirala, editor Republica Daily di Kathmandu, mengatakan sejumlah warga masih berada di dalam rumah ketika banjir menerjang.

“Beberapa rumah telah hanyut, tersapu oleh sungai,” kata Koirala.

Pemerintah Nepal kemudian menggelar rapat darurat Badan Nasional Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana untuk mengevaluasi kondisi di wilayah terdampak.

Tentara Nepal juga mengerahkan helikopter dan personel penanggulangan bencana untuk membantu evakuasi dan pencarian korban.

 

Pembangkit Listrik Rusak

Banjir bandang juga menyebabkan kerusakan besar terhadap infrastruktur energi Nepal.

Otoritas Kelistrikan Nepal menyebut sekitar 430 megawatt kapasitas pembangkit listrik, termasuk fasilitas tenaga air dan tenaga surya, mengalami kerusakan.

Kerusakan mencakup fasilitas pembangkitan, transmisi, hingga distribusi listrik sehingga mengakibatkan gangguan pasokan di sejumlah wilayah.

Delapan warga Korea Selatan yang bekerja di sebuah proyek pembangkit listrik tenaga air juga dilaporkan hilang. Sementara 10 pekerja lainnya masih terjebak di lokasi.

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menyebut para pekerja tersebut berasal dari perusahaan Korea Energy dan Doosan Energy Co.

Pemerintah Korea Selatan telah membentuk gugus tugas dan berencana mengirim tim respons cepat yang terdiri dari pejabat pemerintah, petugas pemadam kebakaran, serta kepolisian ke Nepal.

 

Diduga Dipicu Longsoran Es dan Batu dari Gletser

Penyebab pasti banjir bandang masih dalam penyelidikan. Namun, sejumlah ahli bencana dan iklim menduga peristiwa tersebut berkaitan dengan longsoran es dan batu dari kawasan gletser.

Para ahli dari International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) di Nepal mengatakan longsoran dari gletser kemungkinan menghambat aliran sungai sebelum akhirnya melepaskan gelombang air secara tiba-tiba ke wilayah hilir.

Sungai Lhende Khola, anak Sungai Bhote Koshi, disebut mengalami banjir besar pada Rabu.

Spesialis pengurangan risiko bencana ICIMOD Saswata Sanyal mengatakan sungai tersebut telah mengalami banjir dua kali dalam 14 bulan terakhir.

Menurutnya, banjir kali ini dipicu longsoran es dan batu dari gletser di sisi Nepal yang sempat menghalangi aliran sungai dan kemudian melepaskan air dalam jumlah besar secara tiba-tiba.

Aktivis keadilan iklim Nepal Prayash Adhikari menilai penguatan sistem peringatan dini sangat penting untuk mengurangi korban bencana.

“Sistem peringatan dini sangat penting untuk melindungi masyarakat,” ujarnya.

 

Sungai Bhote Koshi sendiri bermula dari Tibet dan mengalir ke Sungai Trishuli di Nepal, sebelum akhirnya masuk ke India sebagai Sungai Gandak.

Banjir di Sungai Bhote Koshi tahun lalu menewaskan sembilan orang dan menyebabkan 24 lainnya hilang. Banjir tersebut juga menghanyutkan Jembatan Persahabatan yang menghubungkan Nepal dan China, sehingga mengganggu aktivitas transportasi dan perdagangan selama berbulan-bulan.

Bencana banjir dan tanah longsor memang kerap terjadi di kawasan Asia Selatan selama musim monsun yang berlangsung dari Juni hingga September.

Para ilmuwan juga menilai perubahan iklim berpotensi meningkatkan frekuensi serta intensitas cuaca ekstrem di kawasan tersebut.
 

Topik Menarik