Sejarah Kia dari Produksi Sepeda Jadi Merek Otomotif Global
JAKARTA, iNews.id - Delapan dekade bukan sekadar hitungan usia, melainkan rangkaian cerita tentang keberanian, ketekunan, dan komitmen untuk terus melangkah maju. Pada 2025, Kia merayakan 80 tahun kiprahnya di industri otomotif.
Momen ini menjadi refleksi perjalanan panjang Kia, dari perusahaan manufaktur sederhana hingga menjelma sebagai salah satu pemain utama dalam mobilitas berkelanjutan di level global.
Kia didirikan pada 1944 dengan nama Kyungsung Precision Industry oleh Kim Cheol-ho. Pada masa awal, perusahaan ini fokus memproduksi komponen logam. Nama Kia resmi digunakan pada 1952, bertepatan dengan lahirnya produk mobilitas pertama berupa sepeda 3000-Liho.
Tonggak penting lainnya hadir pada 1973 saat Kia membangun Sohari Plant, yang kini dikenal sebagai AutoLand Gwangmyeong. Fasilitas ini menjadi pabrik otomotif terintegrasi pertama di Korea Selatan dan menandai keseriusan Kia di industri kendaraan bermotor.
Langkah Kia di segmen roda empat dimulai pada 1974 lewat peluncuran Kia Brisa. Sejak itu, berbagai model ikonik lahir dan membawa nama Kia ke pasar global, seperti Kia Pride pada 1987 serta Kia Sportage pada 1993 yang dikenal luas sebagai urban SUV pertama di dunia.
Perubahan besar terjadi pada 1997 ketika Kia resmi bergabung dengan Hyundai Motor Group di bawah kepemimpinan Chung Ju-yung dan Mong-Koo Chung. Transformasi berlanjut pada 2005 saat Euisun Chung menjabat sebagai Presiden Kia dan menerapkan strategi Design Management secara menyeluruh.
Langkah ini diperkuat dengan merekrut desainer global, termasuk Peter Schreyer sebagai Chief Design Officer, yang sukses membangun identitas desain Kia dan mengangkat citra merek sebagai produsen yang tidak hanya fungsional, tetapi juga estetis.
Chairman Hyundai Motor Group, Euisun Chung, menekankan nilai ketekunan dalam perjalanan panjang tersebut. “Sejarah 80 tahun Kia adalah sebuah perjalanan yang luar biasa. Atas nama Hyundai Motor Group, saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah menjadi bagian dari warisan Kia,” katanya.
Sementara itu, Presiden dan CEO Kia, Ho Sung Song, menyebut warisan ini sebagai sumber inspirasi ke depan. “Dengan memetik pelajaran dari perjalanan 80 tahun Kia, kami menegaskan kembali semangat determinasi yang telah menggerakkan Kia sejak awal. Kami berkomitmen untuk menjaga dan membagikan warisan ini sebagai fondasi untuk masa depan,” ujarnya.
Vision Meta Turismo Concept
Dalam rangkaian perayaan, Kia juga memperkenalkan Vision Meta Turismo Concept. Konsep kendaraan ini merepresentasikan pandangan Kia terhadap masa depan mobilitas, dengan memadukan performa dinamis dan interior bergaya lounge yang terinspirasi dari perjalanan jarak jauh era 1960-an.
Mengusung filosofi desain “Opposites United”, Vision Meta Turismo memadukan garis futuristik dengan pendekatan human-centered design. Interiornya dirancang untuk menghadirkan pengalaman berkendara yang imersif, didukung teknologi digital canggih yang tetap mengutamakan kenyamanan.
Salah satu sorotan utama adalah setir generasi terbaru dengan tiga mode digital—Speedster, Dreamer, dan Gamer—yang dipadukan dengan teknologi Augmented Reality Head-Up Display (AR HUD). Teknologi ini menampilkan informasi visual tiga dimensi yang seolah melayang di atas jalan, menciptakan interaksi lebih intuitif antara pengemudi dan kendaraan.
“Vision Meta Turismo merepresentasikan visi Kia dalam menggabungkan mobilitas dinamis dengan ruang yang berorientasi pada manusia. Ini adalah wujud komitmen kami untuk menghadirkan pengalaman mobilitas yang tidak hanya canggih, tetapi juga menginspirasi,” ujar Executive Vice President and Head of Kia Global Design, Karim Habib.
Sebagai bagian dari perayaan, Kia juga membuka pameran bertajuk “The Legacy of Movement”. Pameran ini menampilkan delapan zona tematik dengan 17 kendaraan ikonik, mulai dari model bersejarah hingga produk terbaru, yang menggambarkan evolusi Kia selama 80 tahun.

