Tilang Gunakan Teknologi AI, Kocak Foto Polisi Berubah Jadi Katak
JAKARTA, iNews.id – Dihentikan polisi saat berkendara sudah cukup membuat jantung berdebar. Namun, kejadian yang dialami kepolisian Heber City, Utah, Amerika Serikat (AS) ini justru terdengar seperti cerita fiksi.
Pada Desember lalu, polisi setempat harus meluruskan laporan resmi yang menyebut seorang petugas “berubah menjadi katak”. Kisah aneh tersebut bukan ulah oknum polisi atau candaan internal. Penyebabnya adalah kecerdasan buatan (AI) yang mengalami halusinasi saat menyusun laporan.
Dilansir dari Carscoops, Jumat (9/1/2026), Departemen Kepolisian Heber City diketahui tengah menguji perangkat lunak berbasis AI yang berfungsi mendengarkan rekaman kamera tubuh petugas, lalu otomatis menuliskannya menjadi laporan polisi.
Masalah muncul ketika sistem AI tanpa sengaja menangkap suara film The Princess and the Frog yang diputar di latar belakang. Audio tersebut kemudian ditafsirkan secara keliru dan dimasukkan ke dalam laporan resmi seolah-olah benar-benar terjadi di lapangan.
“Perangkat lunak kamera tubuh dan penulisan laporan AI menangkap film yang diputar di latar belakang, kebetulan The Princess and the Frog,” ujar Sersan Keel kepada Fox 13.
Dia menegaskan, insiden ini menjadi pengingat pentingnya pengecekan ulang laporan yang dihasilkan AI sebelum disahkan. Meski terdengar lucu, kejadian ini memunculkan kekhawatiran serius.
Alat AI tersebut sejatinya dirancang untuk membantu polisi menghemat waktu dengan mengubah audio menjadi laporan tertulis, sehingga petugas bisa lebih fokus bertugas di lapangan dan mengurangi beban administrasi.
Namun dalam praktiknya, algoritma AI harus menafsirkan percakapan, intonasi suara, hingga kebisingan latar belakang saat pemberhentian lalu lintas. Padahal, interaksi singkat di pinggir jalan bisa berdampak panjang bagi pengemudi.
Laporan polisi bukan sekadar arsip. Catatan tersebut dapat memengaruhi proses hukum, klaim asuransi, penangguhan SIM, hingga pemeriksaan latar belakang pekerjaan di masa depan. Artinya, kesalahan AI bukan hanya salah ketik, melainkan informasi keliru yang tercatat dalam dokumen resmi.
Dalam kasus ini, kesalahannya cukup ekstrem hingga mudah dikenali. Namun, bagaimana jika AI keliru menafsirkan nada bicara, salah mencatat siapa yang berbicara, atau merangkum situasi dengan bahasa yang lebih keras dari kenyataan? Kesalahan seperti itu bisa jauh lebih sulit terdeteksi dan berpotensi merugikan.
Sebab itu, para ahli menilai pengawasan manusia tetap mutlak diperlukan. Tidak semua petugas mungkin akan menyunting ulang laporan AI jika isinya terasa “cukup mirip”, meski maknanya bisa berbeda.
Untuk sementara, langkah aman bagi pengendara adalah menggunakan dashcam atau alat perekam lain sebagai pembanding. Selain itu, meminta salinan rekaman dan laporan kamera tubuh melalui Undang-Undang Kebebasan Informasi juga dinilai penting.
Belajar dari kasus ini, katak dalam laporan polisi mungkin mengundang tawa. Namun, ketika menyangkut catatan permanen dengan aparat penegak hukum, kesalahan sekecil apa pun bukanlah hal sepele.
