6 Fakta Mens Rea, Stand-Up Show Pandji Pragiwaksono yang Kontroversi
JAKARTA - Komika Pandji Pragiwaksono menyita perhatian publik lewat pertunjukan stand-up komedi bertajuk Mens Rea yang tayang di salah satu platform Over-The-Top (OTT) raksasa.
Meski program itu cukup menggelitik dan menjadi perbincangan hangat di media sosial, namun kontennya juga membuat Pandji harus berhadapan dengan hukum.
Pandji Pragiwaksono resmi dilaporkan Angkatan Muda Nahdlatul Ulama (NU) dan Aliansi Muda Muhammadiyah ke Polda Metro Jaya terkait dugaan penghasutan dan penistaan agama, pada 8 Januari 2026.
Rizky Abdul Rahman Wahid, Presidiun Angkatan Muda NU selaku pelapor mengungkapkan, Pandji dinilai menghina, menyebabkan kegaduhan, serta berpotensi memecah belah bangsa lewat materi komedi yang disampaikannya.
Ia juga menilai materi tersebut menimbulkan keresahan khususnya di kalangan anak muda Nahdliyin dan Aliansi Muda Muhammadiyah.
Berikut fakta-fakta Mens Rea, stand-up show Pandji Pragiwaksono yang kontroversi:
1.Pertunjukan Spesial ke-10 Pandji Pragiwaksono
Mens Rea merupakan pertunjukan stand-up comedy spesial ke-10 dari Pandji Pragiwaksono. Acaranya digelar di Indonesia Arena, Jakarta Pusat, pada 30 Agustus 2025, pukul 19.00-22.00 WIB.
Pertunjukan itu terbilang laris dengan tiket penjualan mulai dari Rp550.000 hingga Rp1,7 juta. Sebelum acara puncak di Jakarta, Mens Rea juga menggelar tur ke 10 kota di Indonesia.
2.Tembus 10.000 penonton
Popularitas Pandji Pragiwaksono menjadi daya tarik utama yang membuat pertunjukan tersebut laris manis. Bahkan, Mens Rea berhasil memecahkan rekor dengan menggaet 10.000 penonton. Jumlah penonton tersebut menjadikan Mens Rea sebagai pertunjukan komedi tunggal terbesar di Asia Tenggara.
3.Digelar di Tengah Panasnya Politik Indonesia
Beberapa hari sebelum digelar, Mens Rea harus beradaptasi dengan situasi Indonesia yang cukup mencekam imbas aksi demo di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat. Demo tersebut menolak kenaikan tunjangan dan menghapus tunjangan berlebih anggota DPR, serta kebijakan yang dianggap menambah beban rakyat.
4.Punya Arti Mendalam
Mens Rea memiliki arti yang mendalam. Nama itu diambil dari konsep hukum pidana yang berarti 'pikiran yang bersalah' (guilty mind), merujuk pada niat jahat, kesadaran, atau sikap batin pelaku saat melakukan tindak pidana.
Tanpa mens rea, perbuatan (actus reus) seringkali tidak bisa dipidana. Ini mencakup tingkat kesadaran dari kesengajaan terencana (planned), kesadaran (knowing), hingga kelalaian (negligence).
Melalui pertunjukannya, Pandji Pragiwaksono menjadikan Mens Rea sebagai 'alat' untuk membongkar niat jahat elite politik. Kontennya lekat dengan isu dinasti politik, matinya oposisi, hingga kebijakan-kebijakan pemerintah yang tak pro-rakyat.
5.Tayang di Platform OTT
Setelah sukses dengan pertunjukan langsung, Mens Rea kemudian tayang eksklusif di Netflix, sejak 27 Desember silam. Bahkan, materi Pandji Pragiwaksono dalam pertunjukan itu disajikan tanpa sensor yang membuatnya menduduki posisi pertama 'Top 10 TV Shows di Indonesia'.
6.Komedi Berujung Kontroversi
Kesuksesan Mens Rea tampaknya belum mampu membuat semua orang terhibur. Sekelompok orang memicu reaksi keras, termasuk laporan ke polisi dan aksi unjuk rasa.
Hal ini membuat Mens Rea bukan sekadar tontonan komedi, tapi fenomena sosial dan politik yang memicu perdebatan publik soal batas humor dan kebebasan berekspresi.*






