Etika dalam Pengabdian: Membangun Kepercayaan dan Kerja Sama dengan Masyarakat

Etika dalam Pengabdian: Membangun Kepercayaan dan Kerja Sama dengan Masyarakat

Nasional | sindonews | Jum'at, 6 Februari 2026 - 15:18
share

Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, Muhammad Irfanudin Kurniawan

Ada sebuah cerita sederhana yang selalu saya ingat.

Di sebuah barak militer Amerika Serikat, para prajurit sedang antre makan siang. Yang menarik, para komandan justru berdiri di barisan paling belakang. Mereka baru makan setelah seluruh anak buahnya selesai. Tradisi ini disebut officers eat last—pemimpin makan terakhir.

Simon Sinek, penulis buku fenomenal Leaders Eat Last, menyebut prinsip ini sebagai fondasi kepemimpinan sejati. Pemimpin bukan mereka yang minta dilayani, melainkan mereka yang mendahulukan orang-orang yang dipimpinnya.

Saya teringat tradisi serupa di pesantren-pesantren Indonesia. Para kiai tidak pernah meminta santrinya membawakan makanan. Justru sebaliknya, di banyak pesantren, kiai dan keluarganya yang memasak untuk santri di masa-masa awal pendirian. Mereka tidak menyebut diri sebagai pemimpin, melainkan khadim, pelayan umat.

Inilah model kepemimpinan yang melahirkan loyalitas tanpa batas

Mengapa “Mengapa” Itu Penting

Dalam bukunya Start With Why, Simon Sinek mengajukan satu pertanyaan mendasar yang sering dilupakan para pemimpin: mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan?Kebanyakan organisasi tahu apa yang mereka kerjakan. Sebagian tahu bagaimana cara mengerjakannya.

Tapi hanya sedikit yang benar-benar memahami mengapa mereka melakukan.Lembaga pendidikan Islam punya jawaban yang sangat jelas untuk pertanyaan ini. Al-Quran menegaskan dalam Surah Ali Imran ayat 110: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” Kata kuncinya adalah “untuk manusia”—bukan untuk diri sendiri, bukan untuk keuntungan institusi, melainkan untuk kemaslahatan umat.

Ketika sebuah pesantren atau madrasah kehilangan “mengapa”-nya, ia akan sibuk mengejar akreditasi, membangun gedung, dan menghitung jumlah siswa. Tapi ketika “mengapa” itu hidup, setiap aktivitas—sekecil apa pun—akan terasa bermakna.

Di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, “mengapa” ini dirumuskan dalam Panca Jiwa: keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan. Lima nilai ini bukan sekadar slogan. Ia adalah jawaban atas pertanyaan mengapa pesantren ini ada.

Pilihan yang Menentukan

Arvan Pradiansyah, dalam bukunya You Are A Leader, mengingatkan bahwa setiap orang sejatinya adalah pemimpin. Kata kuncinya adalah choice—pilihan. Begitu seseorang sadar bahwa ia punya pilihan, saat itu juga ia berubah dari korban menjadi pemimpin, dari objek menjadi subjek.Dalam konteks pengabdian kepada masyarakat, prinsip ini sangat relevan. Lembaga pendidikan Islam selalu punya pilihan: menjadi menara gading yang berjarak dari masyarakat, atau menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri.

Keikhlasan dalam Panca Jiwa Darunnajah adalah tentang pilihan ini. Mengabdi dengan niat tulus, tanpa mengharapkan imbalan, itu pilihan. Masyarakat bisa merasakan perbedaan antara pengabdian yang tulus dan yang sekadar pencitraan. Yang pertama membangun kepercayaan; yang kedua justru menimbulkan kecurigaan.KH Imam Zarkasyi, salah satu pendiri Pondok Modern Gontor, pernah berkata bahwa pesantren harus menjadi “pelayan umat, bukan tuan atas umat.” Pernyataan ini adalah pilihan. Dan dari pilihan itulah lahir tradisi kemandirian yang menjadi ciri khas pesantren modern.

Jendela yang Berbeda

Dalam Life Is Beautiful, Arvan Pradiansyah bercerita tentang seorang nenek yang selalu menangis, saat hujan maupun panas. Ia punya dua anak: yang satu menjual es, yang satu menjual payung. Saat hujan, ia khawatir es anaknya tidak laku. Saat panas, ia khawatir payung anaknya tidak terjual.

Seorang bijak memberinya nasihat sederhana: “Coba pikirkan sebaliknya. Saat hujan, pikirkan anak perempuanmu, payungnya pasti laku. Saat panas, pikirkan anak lelakinya, esnya pasti laris.” Sejak itu, sang nenek tidak pernah menangis lagi.

Cerita ini mengajarkan satu hal penting: keindahan bukan terletak pada situasi itu sendiri, melainkan pada jendela yang kita gunakan untuk melihatnya.

Dalam hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat, jendela ini menentukan segalanya. Jika kita melihat masyarakat sebagai “objek dakwah” yang perlu dicerahkan, kita akan datang dengan sikap menggurui. Tapi jika kita melihat masyarakat sebagai mitra yang setara, kita akan datang dengan sikap belajar bersama.

Darunnajah memilih jendela yang kedua. Melalui jaringan 23 cabang pesantren dan satu universitas mereka tidak sekadar “membina” masyarakat tapi mereka berkolaborasi. Tokoh masyarakat, pemerintah dilibatkan dalam perencanaan program. Dialog dengan warga dibuka selebar-lebarnya. Transparansi menjadi prinsip, bukan sekadar slogan.

Lingkaran Kepercayaan

Simon Sinek menyebut konsep Circle of Safety—lingkaran keamanan yang dibangun pemimpin untuk melindungi anggotanya. Ketika orang merasa aman, mereka akan saling percaya dan melindungi satu sama lain.Dalam tradisi pesantren, lingkaran ini disebut ukhuwah Islamiyah, persaudaraan yang melampaui sekat-sekat sosial. Santri dari keluarga kaya tidur di kamar yang sama dengan santri dari keluarga sederhana. Tidak ada perlakuan istimewa. Semua setara di hadapan ilmu.

Ketika prinsip ini diterapkan dalam hubungan dengan masyarakat, sesuatu yang ajaib terjadi. Masyarakat tidak lagi melihat pesantren sebagai “institusi di sana”—melainkan sebagai bagian dari “kita.” Ketika pesantren membutuhkan bantuan, masyarakat dengan sukarela hadir. Ketika masyarakat menghadapi kesulitan, pesantren menjadi tempat berlindung pertama.

Inilah yang membedakan kerja sama dari patronasi. Patronasi menciptakan ketergantungan. Kerja sama menciptakan kekuatan bersama.

Kepemimpinan Tanpa Gelar

Robin Sharma, dalam The Leader Who Had No Title, mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan soal jabatan. Siapa pun bisa menjadi pemimpin di mana pun ia berada, asalkan ia memilih untuk memberi pengaruh positif.

Di Darunnajah, prinsip ini ditanamkan sejak dini melalui kegiatan pramuka dan khutbatul arsy. Santri belajar memimpin bukan di ruang kelas, melainkan di tengah masyarakatnya sendiri. Mereka belajar bahwa kepemimpinan sejati diukur bukan dari berapa banyak orang yang mengikuti perintah kita, melainkan dari berapa banyak orang yang kita layani.

Alumni Darunnajah tersebar di berbagai pelosok negeri, banyak yang menjadi guru ngaji di kampung-kampung, mendirikan sekolah di daerah terpencil, atau sekadar menjadi tetangga yang baik. Mereka tidak menyandang gelar pemimpin. Tapi mereka memimpin, dengan cara yang paling bermakna.

Penutup

Dale Carnegie pernah menulis bahwa nama seseorang adalah suara paling merdu baginya. Prinsip sederhana ini yaitu dengan menghargai orang lain menjadi fondasi dari semua hubungan yang bermakna.Dalam konteks pengabdian kepada masyarakat, menghargai berarti mendengarkan sebelum berbicara, memahami sebelum menilai, dan melayani sebelum meminta dilayani.

Pesantren-pesantren yang berhasil membangun kepercayaan dengan masyarakat adalah mereka yang menerapkan prinsip ini dengan konsisten. Bukan dengan kampanye besar-besaran, melainkan dengan kehadiran yang tulus—hari demi hari, tahun demi tahun.

Ada pepatah yang mengatakan: “Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan.”

Lembaga pendidikan Islam yang memahami etika pengabdian tidak akan sibuk mengeluhkan ketidakpercayaan masyarakat. Ia akan menyalakan lilin, satu per satu, dengan sabar dan konsisten—hingga terang itu menyebar dengan sendirinya.

Dan ketika terang itu sudah menyebar, tidak ada yang perlu bertanya lagi siapa yang menyalakannya. Karena pemimpin sejati tidak mencari pengakuan. Ia hanya ingin melihat orang-orang di sekitarnya bersinar.Bukankah itu makna pengabdian yang sesungguhnya?

Topik Menarik