Angka Kematian Kanker di Indonesia Masih Tinggi, Fasilitas dan Penanganan Harus Ditingkatkan
Angka kematian akibat kanker di Indonesia tercatat masih tergolong tinggi. Hal itu terlihat berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan data Globocan pada 2022.
Tercatat, angka kematian akibat kanker di Indonesia mencapai 59.24 persen dengan rincian ada 408.661 kasus kanker dengan total kematian 242.099. Angka tersebut berbanding terbalik dengan fasilitas pelayanan kanker yang tersedia kurang dari 80 fasilitas.
Angka tersebut sangat jauh dengan jika dibandingkan dengan jumlah penduduk di Indonesia yang mencapai 275 juta jiwa. Hal tersebut juga turut menjadi perhatian, lantaran jika mengacu kepada standar International Atomic Energy Agency, yang menyaratkan satu mesin radioterapi untuk setiap 250.000 penduduk.
Baca Juga : Meski Sudah Dinyatakan Sembuh Kanker Bisa Muncul Lagi, Ini Penjelasan Dokter
Sinopsis Sinetron Banyak Jalan Menuju Surga Eps 16, Jumat 6 Maret 2026: Soleh Intai Peneror
Tidak hanya itu, kondisi tersebut juga diperparah dengan jumlah dokter spesialis onkologi radiasi yang hanya sekitar 135 dokter dimana persebarannya masih terpusat di Pulau Jawa. Kondisi tersebut membuat berbagai pihak baik pemerintah maupun swasta termasuk rumah sakit yang melayani pengobatan jantung terus berupaya menambah fasilitas pelayanan guna menekan angka kematian akibat kanker di Indonesia.Salah satunya seperti yang dilakukan MRCCC Siloam Semanggi. Menggandeng The University of Texas MD Anderson Cancer Center (UT MD And Anderson) selaku pusat kanker terkemuka dunia asal Amerika Serikat, mereka memberikan panduan strategis (advisory) dan klinis guna meningkatkan standar layanan kanker di Indonesia, khususnya untuk kanker payudara dan paru yang mencatat 104.000 kasus gabungan setiap tahunnya.
Berfokus pada penguatan Multidisciplinary Team (MDT), para ahli dalam kerjasama program ini bakala menyusun rencana perawatan yang personal bagi setiap pasien untuk menghindari keterlambatan terapi.
Baca Juga : Ini 3 Cara Penanganan Kanker Payudara Selain Kemoterapi
Executive Director MRCCC Siloam Semanggi, dr. Edy Gunawan mengatakan bahwa kolaborasi ini memang ditujukan untuk menambah fasilitas layanan bagi pasien penyakit kanker di Indonesia di tengah angka kematian akibat kanker yang dinilai masih cukup tinggi.
“Kami menyadari bahwa layanan kanker di Indonesia masih memiliki banyak aspek yang dapat ditingkatkan, dan kami berkomitmen untuk menjadi bagian dari transformasi tersebut. Kami menantikan pengalaman serta keahlian klinis mendalam dari UT MD Anderson dalam mendukung misi kami untuk memperluas akses, meningkatkan kualitas layanan, dan memberikan harapan nyata bagi pasien yang membutuhkan,” ucap dia dalam keterangan resmi yang diterima, Selasa (31/3/2026).Selain peningkatan kapasitas klinis, kemitraan ini juga akan memperkuat Hospital-Based Cancer Registry (HBCR) untuk pemantauan hasil pengobatan berbasis data. Di sisi lain, kerjasama tersebut juga menghasilkan program kanker payudara dan kanker paru yang komprehensif, mencakup deteksi dini, diagnosis, koordinasi terapi, layanan survivorship, serta sistem dukungan pasien.
Apalagi, pelayanan yang akan diberikan nantinya menggunakan pendekatan Multidisciplinary Team (MDT). Di mana pendekatan tersebut melibatkan kolaborasi dokter dari berbagai disiplin, termasuk bedah onkologi, onkologi medik, onkologi radiasi, radiologi, dan patologi.
Sinopsis Sinetron 'Mencintai Ipar Sendiri'Eps 105A: Rafki Selamatkan Ayuna, Rencana Nila Gagal?
Ia berharap, adanya kerjasama ini bisa memangkas kesenjangan akses medis pengobatan kanker sehingga pasien di Indonesia bisa mendapatkan perawatan berkualitas internasional tanpa harus ke luar negeri.










