Pengungsi Aceh Tamiang Bertahan di Tengah Krisis Air Bersih Usai Banjir Bandang
JAKARTA, iNews.id - Para pengungsi di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, masih harus menghadapi ujian berat setelah banjir bandang yang melanda wilayah mereka. Lumpur yang belum sepenuhnya kering membuat akses semakin sulit, sementara kebutuhan paling mendasar yaitu air bersih masih jauh dari tercukupi.
Setiap hari, warga dari berbagai posko pengungsian terpaksa berjalan kaki sejauh 3-5 kilometer melewati jalan licin dan rusak demi mendapatkan bantuan air minum.
Keterbatasan logistik membuat persediaan air di posko cepat habis, sehingga antrean panjang tak terhindarkan. Banyak pengungsi harus menunggu berjam-jam dan memikul sendiri air mineral yang berhasil mereka dapatkan.
Pemerintah daerah bersama aparat TNI dan Polri terus berupaya mendistribusikan air bersih. Namun, medan yang berat serta banyaknya titik pengungsian menjadi tantangan besar dalam penyaluran bantuan. Kondisi ini memaksa warga bertahan dengan segala cara agar kebutuhan harian tetap terpenuhi.
Selain krisis air minum, masalah kesehatan mulai muncul. Anak-anak dan warga dewasa dilaporkan terserang diare akibat lingkungan yang tidak higienis. Situasi ini menambah beban penderitaan para pengungsi yang masih berjuang bangkit dari bencana.
Banjir bandang yang menyapu Desa Sungai Lilin dan sekitarnya meninggalkan kerusakan luas serta duka mendalam bagi masyarakat Aceh Tamiang. Hingga kini, pemulihan masih terus dilakukan, namun kebutuhan dasar warga tetap menjadi prioritas yang mendesak.










