Kemenhut Intensifkan Penanganan Kayu Hanyutan Pascabencana di Aceh, Sumbar, dan Sumut
IDXChannel - Kementerian Kehutanan terus mengintensifkan penanganan kayu hanyutan dan material sisa bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah terdampak di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara hingga saat ini.
Proses pembersihan, pemilahan, pendataan, hingga pemanfaatan kayu dilakukan secara terpadu bersama TNI, Polri, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan.
Di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, tim gabungan Kemenhut mengerahkan 28 unit alat berat untuk membersihkan tumpukan kayu yang menghambat akses jalan, halaman rumah warga, serta fasilitas pendidikan.
Memasuki hari ke-16, Senin (5/1/2025), kayu yang telah terdata dan dapat dimanfaatkan mencapai 300 batang dengan volume 469,26 meter kubik.
Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) Subhan mengatakan, penanganan difokuskan pada lokasi-lokasi yang langsung berdampak terhadap aktivitas masyarakat.
Pengakuan Rekan Setim: Jay Idzes Sosok Penting yang Bangkitkan Moral Sassuolo saat Tertinggal
“Kami memprioritaskan pembersihan kayu yang menghalangi akses jalan, permukiman, dan fasilitas umum. Kayu yang masih bernilai guna kami pilah dan data agar bisa dimanfaatkan secara tertib untuk kebutuhan darurat warga,” ujar Subhan dikutip keterangan pers Selasa (6/1/2025).
Pemanfaatan kayu oleh masyarakat dan lembaga kemanusiaan telah mendukung pembangunan hunian sementara (huntara). Hingga saat ini, dua unit huntara dalam proses pembangunan dan satu unit telah selesai.
Sementara itu di Sumatera Utara, penanganan pascabencana dipusatkan di Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol, Kabupaten Tapanuli Selatan. Tim gabungan mengerahkan 20 unit alat berat dan 10 unit dump truck untuk pemilahan kayu, normalisasi Sungai Garoga, pembersihan rumah warga, serta penataan lingkungan.
Sejumlah segmen pemilahan kayu bahkan telah mencapai 100 persen sesuai peta kerja.
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani menyampaikan bahwa penanganan dilakukan seiring dengan penyiapan hunian bagi warga terdampak.
“Selain pembersihan dan pemilahan kayu, kami juga mendukung penyiapan lahan untuk huntara dan huntap. Kayu yang terdata akan dimanfaatkan untuk kebutuhan darurat masyarakat sesuai ketentuan,” kata Novita.
Hasil pengukuran sementara di wilayah Garoga mencatat 426 batang kayu bulat dengan volume 253,85 meter kubik serta kayu gergajian sebanyak 154 keping dengan volume 4,236 meter kubik.
Adapun di Sumatera Barat, Kemenhut melalui UPT setempat bersama KPH dan Dinas Kehutanan Provinsi melakukan identifikasi dan pendataan kayu hanyutan di Pantai Padang serta di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Kuranji dan Sungai Air Dingin.
Kepala BKSDA Sumatera Barat, Hartono menjelaskan bahwa proses pendataan masih berlangsung secara menyeluruh.
“Saat ini kami masih melakukan penghitungan jumlah dan jenis kayu hanyutan di beberapa lokasi. Data ini akan menjadi dasar pemanfaatan kayu sisa bencana setelah tim pemanfaatan ditetapkan melalui SK Gubernur,” ujar Hartono.
Kementerian Kehutanan memastikan kegiatan penanganan pascabencana akan terus dilanjutkan dengan pembaruan data secara berkala, guna memastikan pemanfaatan kayu sisa bencana berjalan tertib, transparan, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat terdampak.
(kunthi fahmar sandy)










