Ketika PM Jepang Sanae Takaichi Urus Toilet Wanita di Gedung Parlemen
TOKYO, iNews.id - Hampir 60 politisi di parlemen Majelis Rendah Jepang, termasuk Perdana Menteri Sanae Takaichi, meneken petisi menyerukan penambahan toilet wanita di gedung parlemen.
Mereka mengeluhkan sedikitnya toilet wanita di gedung wakil rakyat, karena kini semakin banyak perempuan menjadi anggota parlemen.
Jumlah politisi perempuan meningkat pesat berdasarkan hasil pemilu legislatif terakhir pada 2024. Setahun kemudian Takaichi menjadi perdana menteri perempuan pertama negara itu pada Oktober lalu.
Namun saat ini hanya ada satu toilet wanita dengan dua bilik di dekat ruang sidang utama. Fasiltas itu sangat tidak memadai karena saat ini ada 73 perempuan menjadi anggota majelis rendah atau DPR.
“Sebelum sidang pleno dimulai, begitu banyak anggota parlemen perempuan harus mengantre panjang di toilet,” kata Yasuko Komiyama, anggota oposisi, Partai Demokrat Konstitusional.
Dia menyerahkan petisi lintas partai yang ditandatangani 58 anggota parlemen perempuan kepada Yasukazu Hamada, ketua komite peraturan dan administrasi majelis rendah.
Gedung parlemen yang berada di Tokyo selesai dibangun pada 1936, satu hampir 10 tahun sebelum perempuan mendapatkan hak pilih pada Desember 1945 atau setelah kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II.
Gedung majelis rendah memiliki 12 toilet pria dengan 67 bilik dan sembilan fasilitas wanita dengan total 22 bilik.
Dalam pemilu terakhir pada 2024, 73 perempuan terpilih menjadi anggota Majelis Rendah dari total 465 kursi. Angka tersebut naik dari 45 dibandingkan periode sebelumnya. Sementara itu di Majelis Tinggi terdapat 74 perempuan dari total 248 kursi.










